Jomblo NO Gadget
Menonton film Jepang, "Survival Family", selintas saya membayangkan situasi dimana kita hidup tanpa gawai di era 90-an. Bahagia, bisa berkesempatan hidup di masa ketika anak-anak ataupun remaja akrab bermain dengan lingkungannya.
Masih terbayang masa Sekolah Dasar, saat bermain layangan, lodong, ketapel, gundu, karambol, sumplit, slepetan, biji karet, dll. Sementara mainan elektronik masih terbatas, paling hanya game watch (gimbot) tetris dan Tamiya Yonkuro yang dulu sempat menjadi barang "viral". Mainan Tamiya pun bukanlah barang murah. Saya ingat sekali, akibat tak kunjung dibelikan, kawan saya, memberikan Tamiya tipe Mantaray-nya kepada saya. Kawan ini memang dimanjakan juga oleh orangtuanya. Di rumahnya, tersedia Nintendo, dan mainan-mainan elektronik mahal lainnya.
Namun, rutinitas harian saya tetaplah lebih akrab dengan permainan tradisional, seperti galasin, benteng, bete, engrang. Terlebih sepakbola, sudah seperti minum obat saat libur. Bisa 3-4 x sehari. Tiada hari tanpa bola. Belum lagi, bermain di alam seperti serial TV "Si Bolang". Sawah, rawa, tebing, setu dan sungai-sungai bukanlah hal asing bagi anak-anak zaman dulu. Kami terbiasa berjalan jauh 5-10 km untuk main ke rumah teman ataupun sparing bola (ngadu).
Ketika SMP, kami sempat tersilaukan dengan dingdong, mainan elektronik berbasis komputer, dimana kita harus menyediakan uang 100 rupiah untuk bermain video games sewaan. Tapi, hal itu tetap tak mengalahkan kesenangan bermain bola. Zaman SMA, saya memang lebih sering nongkrong. Ngobrol ngalor ngidul. Tapi, temen-temen juga gak tertarik ngobrolin lawan jenis. Gak jauh paling yang dibahas kunci gitar dan update informasi liga-liga bola. Ujung-ujungnya, tetap main bola setiap sore di lapangan. Sempat juga merasakan begadang malam mingguan. Tapi, kami tetap bertahan dalam "kejombloan". Lagi-lagi, begadang itu pun soal nobar laga liga sepakbola di salah satu rumah kawan.
Rindu masa itu, sekaligus miris melihat banyaknya anak-anak yang tersihir layar kecil yg mereka anggap kesenangan tiada tara. "Mending di rumah pak, mager saya, daripada jalan kaki begini!" kata seorang siswa. Saya tak kaget dengan jawabannya. Pasti baginya lebih asyik main games, bermedsos di rumah ketimbang bermain di lingkungan.
Seandainya ada mesin waktu, perlu rasanya Anak-anak zaman now dikirim ke zaman dulu untuk merasakan permainan anak- anak seusianya. Atau mungkin, perlu keadaan seperti film "Survival Family", dimana teknologi gawai mendadak hilang dalam kehidupan.
Kita tak bisa mengeyampingkan perubahan zaman. Teknologi akan terus berkembang mengisi ruang-ruang kehidupan. Bahkan memudahkan urusan-urusan kita. Tapi, jangan pula teknologi justru melindas kehidupan sosial kita, mematikan gerak fisik, ataupun membuat sekat-sekat dalam interaksi. Yang jauh memang bisa jadi dekat, tapi yang dekat tetap harus jadi dekat.


Komentar
Posting Komentar