Begadang

Malam minggu jadi malam yang ditunggu. Siaran langsung Piala Dunia 1998 memang menghipnotis. Tapi nonton sendiri terasa sepi. Nobar, ngumpul-ngumpul lebih asyik. Nobar ini bukan layaknya pasang layar besar sambil duduk ngampar di tikar, ataupun yg trend a la kafe-kafe. Ini cuma nonton TV biasa, 20 inc. Tempatnya pun di rumah salah seorang kawan yang rela ketempatan. Tak ada sajian istimewa. Kacang kulit kemasan sudah lebih dari cukup.

Nobar acara puncaknya. Tapi prolognya banyak. Dimulai dari jalan keliling komplek perumahan, terus nongkrong pindah-pindah. Maling juga ciut ngeliat mereka nongkrong. Anak-anak SMA, saat itu, memang dikenal suka tawuran. Nongkrongnya itung-itung ngeronda. Usai ngobrol ngalor ngidul, mereka beranjak ke acara nonton balap liar. Jelang tengah malam, para pebalap liar bermunculan. Para pebalap memacu motornya di jalan raya yang mereka anggap macam  sirkuit di tengah kota, San Moreno atau disebut Sirkuit Marco Simoncelli. Mata anak tanggung itu menoleh ke kiri ke kanan, menatap motor berknalpot racing yang ngebut dengan suara bising. Tak jelas siapa yang menang. "Weeeeeeiiias...! seru mereka, saat satu motor menyalip motor lainnya


Waktu menunjukan pukul 01.30 WIB dini hari. Tibalah acara yg dinanti. Karpet digelar, lengkap dengan bantal dan guling. Lampu dipadamkan. Peluit kick off ditiup, semua menatap layar TV.  Babak pertama masih terdengar komentar bernada semangat, ataupun penyesalan. Namun, perlahan komentar-komentar itu hilang. Tinggal komentator TV yang terus bersuara. Kadang mata yang terpejam itu sempat terbelalak begitu ada teriakan "Gooooool!" dari komentator, kemudian kembali senyap. Suara kukuruyuk ayam seolah menertawakan anak muda tanggung yang justru ditonton televisi. 


Sepasang bola mata masih terjaga. Dia adalah Pak Ucup, ayah dari salah satu remaja yang begadang. Namanya sebenarnya Yusuf, tapi anak-anak sering memanggilnya Pak Ucup. Kebiasaan canda memanggil nama bapak, belum hilang dari zaman kompeni sampai masa kini. Pak Ucup baru saja bangun pukul 03.00 WIB dini hari. Usai ambil wudhu, selintas ia tengok ruang tengah rumahnya. TV masih menyala,  para remaja itu sudah mangap semua. Dengkuran dan kentut jadi backsound siaran langsung bola yang sudah hampir selesai.


"Braaaaaaak" suara orang melompat terdengar dari rumah sebelah. Pak Ucup yang baru selesai 4 rakaat tahajud, terperanjat. Baru terucap 1 kata istighfar, belum sempat witir, ia melipat sarung. Tinggal celana pendek dan peci. Ia bukan bergaya perlente yang bercelana pendek dan bersandal ataupun bersepatu ketika berjalan-jalan di mall. Makin pendek celana makin mapan begitu katanya. Lain halnya Pak Ucup. Celana pendek itu memang kebiasaannya saat berada di rumah. Celana ribuan rupiah yang dibeli dari penjual keliling. Tak heran banyak celana pendek tergantung di jemuran rumah. Dari yang model kolor a la celana bola era 90-an sampai hawai. 


Pak Ucup mengintip dari jendela. Dilihatnya sosok bayangan yang menggenggam sesuatu. Naluri pendekarnya muncul. Pak Ucup memang punya darah jawara. Ayahnya pendekar ternama di pinggiran Jakarta. Sedikitnya 100 jurus dikuasai.  Termasuk tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. Tapi semuanya diperoleh dengan belajar. Bukan aneh-aneh macam berita "Kolor Ijo".  Pelan-pelan, Pak Ucup membuka pintu. Ia mengendap endap,  melangkah senyap. 


"Balikin lagi bang...! kata Pak Ucup pelan.

Si maling terperanjat. Baru kali ini Si Maling dipanggil dengan sapaan Bang, tidak seperti biasanya "Maling....!" suara khas yang biasanya membangunkan orang sekomplek. Melihat yang dihadapi bapak-bapak, sempat terpikir melawan atau langsung kabur. Apalagi pemuda kisaran 25 tahunan ini sudah berbekal pisau di pinggang. 

" Kamu butuh duit berapa?" tanya pak Ucup

Pertanyaan ini membuat si maling bertambah bingung. 

" Cepetan balikin itu burung, sebelum banyak warga bangun dan jadi rame!"

Pemuda yang kupingnya ditindik dan bertato love tertancap busur di punggung tangan itu masih menggegam erat Burung Murai di tangan kiri. Tangan kanannya sigap mengambil pisau, mengancam pak Ucup. Tapi tak ada isyarat gentar di wajah Pak Ucup.

Dimbilnya uang 50 ribu dari saku celana, "Ini untuk kamu...!" Tangan kanannya memberi, tangan kirinya menotok tubuh si pemuda. 

Pemuda itu tak bisa bergerak. Persis seperti adegan di drama kungfu Cina, totokan yang membuat lawan tak bisa bergerak. Lumpuh sementara waktu. 

Pak Ucup mengambil pisau dan burung yang ada di tangan si pemuda, kemudian menotok untuk kedua kalinya, membuat si pemuda kembali bergerak. 

"Ampunin saya pak!" tutur si maling lirih

"Kamu minta ampun ke Allah! Ini ambil uangnya, cepetan kabur sebelum adzan shubuh dan warga bangun!"

"Makasih bapak, makasih banget, maafin bapak!" sambil membungkuk, mencium tangan pak Ucup.


Jamaah shubuhan masjid sudah bubar. Pak Ucup kembali ke rumah. Dedi, anaknya, yang tadi begadang, masih tertidur pulas. Mulutnya masih mangap.  Kalaupun kotoran cicak jatuh ke mulut, mungkin juga tidak akan terasa. Kawan-kawannya juga telah lenyap tak berjejak. Tinggal tersisa kulit kacang di dalam kantong kresek.

"Ded, bangun, shubuh! Begadang nonton bola lo bisa, shubuh susahnya minta ampun! sambil menciprati air ke muka dedi 

" Iya ayah bentaran lagi!" Balas dedi, menguap sambil merapat tangan terus diangkat ke atas, seperti nguletnya anak bayi.

Pak Ucup tak menyerah. Dua cipratan menyusul. Dedi pun bergegas ke belakang. Cuma butuh waktu 3 menit, dedi wudhu dan shalat, sebelum berlanjut ke pembaringan. Shalat kilat. Bisa jadi matanya terpejam, lisan meracau, tak mengerti yang diucapkan. Shubuh a la begadangers. 


"Assalamua'alaikum Pak RT...!" terdengar suara dari depan rumah

"Burung saya ilang...!" tutur pak Shomad

"Haaaah burung bapak ilaaaaang...? Kok bisa?!" canda Pak Ucup

"Serius pak RT! Burung Murai saya ilang!"

" Tenang Pak Shomad, aman! Sebelum shubuh, tadi lepas keluar kandang! Saya jebak sampe ketangkep lagi!" sambil mengambil Burung Murai dari sangkar kosong milik pak Ucup

"Makasih banget Pak RT! Kirain ada maling pak..! Udah shock aja saya! ungkap Pak Shomad, mengambil burung Murai kesayangannya.


Dedi masih tertidur di kamarnya. Pak Ucup seperti biasa, duduk di kursi teras depan rumah, sambil memandangi ayam-ayam kate yang sengaja diumbar di halaman saat matahari baru tampak. Sesekali diseruput kopi hitam buatan istri tercinta. Sayangnya, tak ada pisang goreng seperti biasa. Ia memang lupa membeli pisang di pasar kemarin lusa. Kopi tanpa pisang goreng ibarat sayur tanpa garam. Tapi masih ada suara radio, lagu Bang Haji Roma yang setia menemani.

"Assalamu'alaikum, pak, ini ada titipan!" seorang tak dikenal datang membawa bingkisan

"Dari mana? kamu siapa?" tanya Pak Ucup

"Saya cuma suruhan pak! Katanya  pernah ketemu sama bapak! balas pemuda yang memakai topi hitam itu

"Baik sampaikan terimakasih!" 

Pemuda itu lalu bergegas pergi meninggalkan Pak Ucup.

Dibukanya bingkisan yang berisi pisang goreng, ubi goreng, gemblong, kue lupis, lengkap dengan 2 bungkus nasi uduk. Ada secarik kertas bertuliskan, "Pak terimakasih pengingatnya semalam! Saya minta maaf, dan tobat, insyaAllah gak maling lagi! Ini pengganti uang semalam, saya antar langsung ke bapak!"

Usai membaca Pak Ucup langsung lari bergegas keluar pagar, sambil melihat lelaki bersepeda yang masih tampak dari kejauhan. Pak Ucup bertepuk tangan, sambil bersiul panjang, "Tswiiiiiiiit!" memekik telinga, persis ketika ia masih muda dulu. Lelaki  itu menoleh, terus melambaikan tangan.


"Begadang, jangan begadang

Kalau tiada artinya

Begadang boleh saja

Kalau ada perlunya" suara bang haji bersenandung dari radio tua Pak Ucup

















Komentar

Postingan Populer