Dari Ranjang Darurat, Hati Pun Tertambat

Waktu itu, tahun 1997, Jakarta tengah wabah Demam Berdarah (DB). Koran-koran nasional menempatkan berita wabah DB sebagai Headline. Saya ditakdirkan menjadi salah seorang pasien wabah tersebut.

Ibu membawa saya bolak-balik ke dokter hingga Cek Lab di sebuah klinik di Margonda Depok. Hasil tes menunjukan trombosit menurun. Tapi, kami memutuskan pulang seiring malam menutup petang.

Tengah malam, saya terbangun dengan lunglai dan muntah-muntah. Ibu membawa saya ke RS Bhakti Yudha, tempat dimana saya dilahirkan. Waktu itu, saya sudah tidak bisa berdiri. Langsung ke Unit Gawat Darurat, dan ditangani suster yang begitu judes. Mungkin, suster ini tengah ngantuk berat ditengah banyak pasien sekarat.

Hasil Cek Lab menunjukan positif DB. Trombosit menurun drastis. Tapi, saya tak langsung mendapat perawatan karena kondisi RS kebanjiran pasien DB. Ibu tak tega membiarkan saya dianggurkan di tempat tidur ruang UGD. Kami pun memutuskan mencari RS lainnya.

Rumah Sakit kedua adalah RS Pasar Rebo. Lagi-lagi harus cek darah. Giliran saya yang marah kepada suster. "Cek lagi, Cek lagi! kapan dirawatnya!" kata saya ketus.

Dokter ruang UGD membolehkan saya dirawat. Tapi dalam Waiting List. Ruang rawat RS masih penuh pasien DB. Dokter memberi alternatif untuk dirawat  darurat seperti pasien lainnya, mengampar di lorong-lorong RS. Ibu tak tega membiarkan saya yang punya alergi cuaca tertusuk-tusuk hembusan angin malam.

Waktu menunjukan Jam 03.00 dini hari. Kami pun berpacu dengan waktu mencari RS lain. Saya sudah pasrah, entah tetap hidup atau akan mati.

Rumah sakit selanjutnya adalah RSPAD Gatot Subroto. Tak perlu menunggu lama, kami diberitahu kondisi RS penuh, tak bisa menampung pasien DB tambahan.

Perjalanan berlanjut hingga Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Takdir membawa saya ke RS Islam Jakarta. Kami langsung menuju UGD, dan lagi-lagi harus cek darah. Tepat shubuh, saya berbaring di ranjang UGD. Di tengah situasi ini, saya yang phobia dengan darah, harus melihat seorang ibu di ranjang sebelah dengan mulut berlumur darah dan gigi yang hancur.
" Saya mau belanja ke pasar shubuh, lalu ditabrak motor!" kata ibu tua menjawab dokter dengan suara lemah. " Innalillah"



Dokter mengatakan dengan kondisi stadium DB saya, umumnya pasien sudah pendarahan. "Bagus secara fisik anaknya"
Kata-kata dokter membuatku yang terbaring di ranjang RS, seperti terbang melayang.Terlebih, banyak perawat berjilbab berseliweran.

Entah alasan apa yang membuat dokter mengatakan fisik saya bagus. Mungkin, saat SMA, saya suka bermain bola. Main bola sudah kaya minum obat, 2-3 kali sehari. Bahkan, saat matahari sedang terik-teriknya.

Saya diizinkan dirawat di UGD sampai jam 06.30 pagi. Kondisi RS masih penuh pasien DB. Namun, perawat memberi kabar bahwa pagi ini akan ada pasien pulang. Akhirnya, saya pun bisa menempati ruang rawat RS.


Saat dirawat, saya sering meracau tanpa sadar, atau kadang marah kepada suster yang bolak-balik mengambil darah. Saya masih mengingat jelas nama dokter yg merawat, Iskandar Dzulkarnain. Seperti nama seorang raja beriman dalam Surat Al Kahfi. Yang di kemudian hari, saya lihat sang dokter di layar kaca, diwawancarai sebuah media TV. Dokter yang begitu sabar dan memotivasi. Semoga Allah memberi balasan amalnya.




Hari demi hari saya menjalani perawatan di RS. Saya terkesan dengan perawat magang yang merawat dengan penuh kesabaran saat ayah dan ibu mengurus pekerjaan di kantornya di Jakarta. Terlebih, perawatnya masih muda. Mungkin perawat magang, atau baru lulus sekolah kejuruan.

Hingga akhirnya, saya berangsur pulih dan diizinkan pulang. Namun, saya memohon kepada ibu untuk menginap semalam lagi. Saya beralasan ingin berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada suster yang merawat. Modus! Gejolak anak Usia 17 tahun.

" Orang pada mau pulang, ini kok malah mau nginep di RS! Seneng ma suster ya dan?!" canda pasien di kamar rawat yang sama.
Ibu mengizinkan, dan jadilah saya tidur di RS tanpa ditunggui.

Dari malam ke pagi hingga tiba waktu penjemputan, saya gagal menemukan sang perawat magang. Mungkin, saat itu, saya menjadi satu-satunya pasien yang berkeliaran dengan gelang di tangan.

Saya menyaksikan wajah-wajah panik. Ranjang-ranjang didorong perawat hilir-mudik, berisi pasien-pasien yang berada dalam kondisi kritis.

Keluarga saya akhirnya tiba di RS. Pada masa injury time, saya tetap gagal menemukan sang perawat. Langkah-langkah kaki penuh harap setapak demi setapak meninggalkan RS. Pandangan saya masih menoleh ke kanan-kiri, dan akhirnya terhenti, terpaku menatap tulisan dinding Rumah Sakit.

وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ

"dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku"
(QS 26:80)

Komentar

Postingan Populer