Lebih Berbahaya Dari Virus Corona
Dulu semasa SMP, kami punya geng bermain, namanya Destroyer. Namanya terkesan sangar. Padahal geng kami adalah sekumpulan anak yang terpinggirkan karena bertubuh kecil.
Satu orang yang paling sering disudutkan, dan dihujat teman-teman adalah Ari. Perbuatan Ari sebenarnya jamak dilakukan banyak orang. Kentut!
Masalahnya, ia seringkali kentut ketika teman-teman sedang nongkrong bareng. Baunya pun luar biasa. Ia mengakui memang sulit menahan kentut. Karena itulah, teman-teman menjulukinya "Virus".
Bahkan, saat ia tak kentut pun, teman-teman ramai-ramai menunjuk muka Virus.
"Virus! Virus!" sambil ramai-ramai mengejarnya dan mengeplak kepalanya.
Sekalipun ia bersumpah-sumpah, teman-teman tak percaya.
Kami yang punya hukum a la NATO dalam geng. SERANGAN TERHADAP SATU ORANG, SERANGAN TERHADAP SEMUA. Tak bisa berbuat apa-apa.
Kebiasaan Virus menjadi kesempatan teman-teman yg iseng. Kentut di tengah kerumuman saat ada Virus. Pastinya, Virus akan selalu jadi kambing hitam. Sementara, mereka pun bisa puas melampiaskan kentut dengan beragam intonasi dan aneka bau nano-nano.
Ketika kami duduk di bangku kuliah, kami mendengar kabar Virus meninggal. Namun, tentunya bukan karena kentut. Tak ada orang meninggal dunia karena kentut. Sering kentut memang menunjukan gejala penyakit. Tapi, gak bisa kentut justru lebih berbahaya, begitu kata ahli medis. Rasanya perlu penjabaran panjang kalau kita membahas gas pencernaan yang berasal dari Hidrogen Sulfida (H2S) ini.
Virus meninggal dunia karena penyakit paru-paru. Ia memang tak bisa lepas dari rokok sejak SMP. Mungkin orang akan mudahnya berkata, sudah takdirnya! Padahal, mungkin ia bisa saja terhindar meninggal muda, asal mau berhenti merokok. Itu kalau kita bicara ikhtiar dulu sebelum qadar.
Orang gampang mencemooh orang yang kentut di tengah banyak orang. Tapi bersikap biasa terhadap orang yang merokok di tengah kerumunan. Kentut memang tidak sopan, tapi tak pernah menzalimi orang lain.
Ketika orang-orang berharap udara bersih, perokok justru mengotorinya. Bahkan, asap rokoknya lebih merugikan kesehatan orang lain. Berapa banyak orang yang tidak merokok terkena penyakit paru-paru, atau kanker paru karena menjadi perokok pasif. Jangan sampai kesenangan kita membawa petaka bagi orang lain.
Demikian halnya orang yang merasa sehat dan kuat, tapi sebenarnya carrier COVID-19. Ia celakakan orang-orang yg berharap sehat dengan kebodohannya keluyuran di tengah kerumunan. Egois dan congkak. Inilah justru yang lebih berbahaya dari virus sebenarnya!




Komentar
Posting Komentar