Air Mata Bunda (3)
“ Kalo dibilang orang tua ga nurut! Ga ada orang tua yang punya niat ngejerumusin anaknya! “ kata ibu istriku lantang, mendengar penjelasan istriku.
Istriku hanya terdiam, menangis sesegukan ketika kedua orang tuanya marah dan menyalahkannya karena dianggap tak pernah mendengar nasihat orang tua. Sementara aku tak bisa berbuat banyak, ingin membela istriku yang bertambah-tambah shock, namun juga tak ingin membuat ketegangan menantu-mertua semakin menjadi.
Sangat sulit menghubungkan jurang pikiran kami. Bapak berkutat menyalahkan hari pernikahan yang seharusnya dulu sesuai dengan hitungan kejawen. Sesuatu yang aku tentang dulu, dan meminta hari pernikahan digelar mengabaikan perhitungan tersebut. Sedangkan Ibu juga mengaitkannya dengan pantangan-pantangan yang kami tidak turuti. Apakah kita harus menuruti sesuatu yang tidak logis dan menjauhi iman? Seperti dilarang pindah rumah sebelum kandungan mencapai 7 bulan karena menyebabkan bayi akan mengecil dan beberapa pantangan lainnya yang benar-benar tidak ilmiah. Apalagi ketika kami tinggal serumah kembali karena pertimbangan kandungan istri yang menua, situasinya makin bertambah rumit. Aku seperti kehilangan wewenang sebagai imam bila berhadapan dengan kehendak orang tua atas anaknya. Bukankah ketika anak perempuan telah menikah tanggung-jawab dunia dan akhiratnya sudah diserahkan kepada suaminya?
***
Jam menunjukan pukul 6 pagi. Kami pergi menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak di Slipi dengan langkah gontai. Kami sudah pasrah bila akhirnya dokter menyarankan bedah secar sebelum waktunya. Teringat doa yang diajarkan Nabi SAW, “ Cukuplah Allah, tiada Ilah selain dia, dan kepada-Nya kami bertawakal, dan Dialah Rabb yang Maha Agung “. [7]
“ Kondisi janinnya baik!” kata dokter kepala bagian kandungan yang langsung menangani kami.
“ Air ketubannya bagaimana dok? “ tanyaku
“ Masih cukup!” jawab dokter senior itu dengan santainya.
“ Tapi dok,...katanya pertumbuhan janinnya terhambat!” kataku sambil menunjukan dokumen-dokumen catatan medis sebelumnya.
Tim dokter yang menangani kami berpaku pada diagnosa mereka, seraya menegaskan bahwa mereka memilih mempertahankan janin, dan tidak mengeluarkan sebelum waktunya dengan tindakan bedah secar. Namun istriku harus menginap semalam untuk memastikan detak jantung janin stabil.
“ Istri bapak sudah boleh pulang! Namun harus cek per 3 hari untuk mengevaluasi pertumbuhan janin! “ tegas salah satu dokter spesialis kandungan
“ Dok, harus per 3 hari? Tidak sepekan sekali saja? ” pintaku, terbayang jarak jauh harus ditempuh dari Depok ke Slipi.
“ Ini jalan tengah, karena dokter Depok sudah merekomendasikan pengakhiran kehamilan, kita putuskan mempertahankan namun dengan evaluasi ketat !” balas dokter
“ Dok, dengan kondisi hamil tua seperti ini, bukan beresiko bila menempuh perjalanan jauh?”
“ Semuanya ada resikonya, pak! Kondisi kandungan istri bapak kan kasus berbeda, jadi perlu perhatian serius, ini sebagai langkah antisipasi dari hal-hal yang tidak kita inginkan!”
Kendati berat, kami mengikuti saran dokter, per 3 hari cek kandungan ke Rumah Sakit di Slipi. Lelah pikiran, fisik, dan harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Suatu pengorbanan untuk menanti datangnya si buah hati.
Masalah ini membuat kami makin mendekat kepada sang Khalik, memanjatkan doa memohon kemudahan dan keselamatan bagi ibu dan si jabang bayi.
(Bersambung)
[7] Baca QS At-Taubah: 129
Zikir ini bila dilakukan dengan tuma’ninah dan khusyuk, akan mengundang pertolongan-Nya. Kita tidak lagi terpana oleh hambatan. Terjebak oleh keresahan. Masa lalu yang semula membuat hati sempit, kini terasa lapang. Masa depan yang membuat resah, kini menjadi tenang. Ada aliran rahmat-Nya mengiringi perjalanan ini sehingga lahir sikap arif.(Rahasia Memunculkan Sikap Arif, Majalah Hidayatullah Februari 2010)
Istriku hanya terdiam, menangis sesegukan ketika kedua orang tuanya marah dan menyalahkannya karena dianggap tak pernah mendengar nasihat orang tua. Sementara aku tak bisa berbuat banyak, ingin membela istriku yang bertambah-tambah shock, namun juga tak ingin membuat ketegangan menantu-mertua semakin menjadi.
Sangat sulit menghubungkan jurang pikiran kami. Bapak berkutat menyalahkan hari pernikahan yang seharusnya dulu sesuai dengan hitungan kejawen. Sesuatu yang aku tentang dulu, dan meminta hari pernikahan digelar mengabaikan perhitungan tersebut. Sedangkan Ibu juga mengaitkannya dengan pantangan-pantangan yang kami tidak turuti. Apakah kita harus menuruti sesuatu yang tidak logis dan menjauhi iman? Seperti dilarang pindah rumah sebelum kandungan mencapai 7 bulan karena menyebabkan bayi akan mengecil dan beberapa pantangan lainnya yang benar-benar tidak ilmiah. Apalagi ketika kami tinggal serumah kembali karena pertimbangan kandungan istri yang menua, situasinya makin bertambah rumit. Aku seperti kehilangan wewenang sebagai imam bila berhadapan dengan kehendak orang tua atas anaknya. Bukankah ketika anak perempuan telah menikah tanggung-jawab dunia dan akhiratnya sudah diserahkan kepada suaminya?
***
Jam menunjukan pukul 6 pagi. Kami pergi menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak di Slipi dengan langkah gontai. Kami sudah pasrah bila akhirnya dokter menyarankan bedah secar sebelum waktunya. Teringat doa yang diajarkan Nabi SAW, “ Cukuplah Allah, tiada Ilah selain dia, dan kepada-Nya kami bertawakal, dan Dialah Rabb yang Maha Agung “. [7]
“ Kondisi janinnya baik!” kata dokter kepala bagian kandungan yang langsung menangani kami.
“ Air ketubannya bagaimana dok? “ tanyaku
“ Masih cukup!” jawab dokter senior itu dengan santainya.
“ Tapi dok,...katanya pertumbuhan janinnya terhambat!” kataku sambil menunjukan dokumen-dokumen catatan medis sebelumnya.
Tim dokter yang menangani kami berpaku pada diagnosa mereka, seraya menegaskan bahwa mereka memilih mempertahankan janin, dan tidak mengeluarkan sebelum waktunya dengan tindakan bedah secar. Namun istriku harus menginap semalam untuk memastikan detak jantung janin stabil.
“ Istri bapak sudah boleh pulang! Namun harus cek per 3 hari untuk mengevaluasi pertumbuhan janin! “ tegas salah satu dokter spesialis kandungan
“ Dok, harus per 3 hari? Tidak sepekan sekali saja? ” pintaku, terbayang jarak jauh harus ditempuh dari Depok ke Slipi.
“ Ini jalan tengah, karena dokter Depok sudah merekomendasikan pengakhiran kehamilan, kita putuskan mempertahankan namun dengan evaluasi ketat !” balas dokter
“ Dok, dengan kondisi hamil tua seperti ini, bukan beresiko bila menempuh perjalanan jauh?”
“ Semuanya ada resikonya, pak! Kondisi kandungan istri bapak kan kasus berbeda, jadi perlu perhatian serius, ini sebagai langkah antisipasi dari hal-hal yang tidak kita inginkan!”
Kendati berat, kami mengikuti saran dokter, per 3 hari cek kandungan ke Rumah Sakit di Slipi. Lelah pikiran, fisik, dan harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Suatu pengorbanan untuk menanti datangnya si buah hati.
Masalah ini membuat kami makin mendekat kepada sang Khalik, memanjatkan doa memohon kemudahan dan keselamatan bagi ibu dan si jabang bayi.
(Bersambung)
[7] Baca QS At-Taubah: 129
Zikir ini bila dilakukan dengan tuma’ninah dan khusyuk, akan mengundang pertolongan-Nya. Kita tidak lagi terpana oleh hambatan. Terjebak oleh keresahan. Masa lalu yang semula membuat hati sempit, kini terasa lapang. Masa depan yang membuat resah, kini menjadi tenang. Ada aliran rahmat-Nya mengiringi perjalanan ini sehingga lahir sikap arif.(Rahasia Memunculkan Sikap Arif, Majalah Hidayatullah Februari 2010)

ditunggu lanjutannya :-)
BalasHapusyg sabar pak masalah klenik.
biasanya kalo sudah anak kedua ortu akan melemah jika kita tetap teguh dan menunjukkan tidaklah semua terjadi kec. sudah ditetapkan Allah
iya, mba...sudah ada lanjutannya, :-)
BalasHapus