Bolang: Wahana Air
Berjalan kaki sejauh 3 km. Usaha yg harus ditempuh anak-anak agar bisa menikmati surga dunia anak-anak, berenang. Kami harus melalui kampung-kampung, menyusuri gang-gang kecil yg belum beraspal. Cuma tanah merah yg bertabur bebatuan yang menopang langkah kaki agar tak terpleset. Begitu keluar gang Masjid Baiturrahman, bertemu jalan raya Tole Iskandar, rasanya sedikit lega. Isyarat wahana dambaan tersisa setengah perjalanan.
Antara Jalan Tole Iskandar menuju Pondok Sukmajaya, ada beberapa rumah yg pekarangannya ditanami Pohon Bacang. Kata Agus, teman kami yg tinggal di Cikumpa, jangan naik Pohon Bacang untuk memetik langsung buahnya kalau baru pertama datang. Nanti mimpi didatangi genderuwo penunggu pohon. Ternyata memang terbukti. Malamnya kami mimpi bertemu Genderuwo Bacang. Mungkin sugesti, atau cuma rasa takut yg menghantui.
Sempat singgah sebentar di Rumah Agus, tepat di seberang SDN Pondok Sukmajaya untuk mengisi perut. Kami lanjutkan perjalanan menuju wahana permainan air. Agus menuntun kami menyusuri komplek Pondok Sukmajaya untuk sampai ke tujuan. Di perumahan yang terbilang elit, kami menikmati pekerjaan pemulung. Tempat-tempat sampahnya sering dipenuhi mainan bekas, ataupun benda-benda menarik lainnya. Membuat kami tertantang membuka satu demi satu tong sampah. Barangkali ada oleh-oleh yg bisa dibawa pulang. Entah itu memang sampah, atau barang yang sengaja dibuang pemilik rumah, agar dipungut anak-anak.
Hembusan angin makin kuat, menerbangkan aroma air situ(setu) yg sangkat khas. Langkah kaki makin cepat, tak sabar terjun dengan gaya a la pendekar harimau di film silat-silat kolosal. Setu menjadi tempat kedua setelah Sungai Ciliwung yang menjadi dambaan anak-anak seperti kami bermain air. Berbeda dengan Ciliwung, air setu tenang, tak berarus. Dasarnya tanah becek, bercampur batu-batu dan sampah lainnya. Tak heran baunya khas. Tak seperti kolam renang yg bersih dan beraroma kaporit.
Di sekitarnya ada pemandangan beberapa ekor kuda yg diumbar. Agus bilang, itu Kuda Bary Prima dan Advent Bangun yg digunakan saat shooting film-film silat. Kami hanya bisa mengiyakan. Agus, kami anggap guide yang mengenal medan dan tahu banyak hal.
Hari pun beranjak petang. Isyarat kami harus pulang. Menyudahi petualangan semenjak pulang sekolah siang. Selalu ada yg mengganjal; melupakan keseruan bermain, dan kembali berlelah-lelah, berjalan pulang. Tiga kilometer lagi untuk sampai Jalan Merdeka. Tapi selalu ada cerita, ataupun pengalaman baru, menghempas bosan dan lelah, menemani perjalanan sampai tiba di rumah. "Besok kita ngobak kesana lagi ya!" kalimat perpisahan sebelum kembali ke rumah. Adzan Magrib berkumandang....


Komentar
Posting Komentar