Bolang: Jenderal Ciliwung

 "Cili yuk Cili!" seru Udin, sesaat setelah bell pulang sekolah berbunyi.

"Nyoook ...!" teman-temannya serempak menjawab. Sementara yg cewek menatap teman-teman cowoknya, seperti sudah mahfum kode itu.

Cili, jadi kode khusus anak-anak SD Mekarjaya 34, mengingatkan janji ngobak sepulang sekolah di sungai Ciliwung. Ini petualangan khusus laki-laki. Menunjukan batas gender yg jelas. Antara perempuan yg suka bermain orang-orangan kertas, lompat karet, ataupun menyanyi-menari dan laki-laki yang suka bertualang di alam.



Sungai Ciliwung Kampung Melati atau yang di belakang jalan Maengket jadi tempat pilihan anak-anak. Tapi, anak-anak sedikit risih di Kampung Melati, karena masih ada warga yang mencuci. Sementara mereka ngobak(berenang) cuma pake sempak(celana dalam), atau yang kelas rendah malah tanpa sehelai benang, supaya aman tak ketahuan pulang ngobak.

Sedangkan di belakang jalan Maengket, lebih sering jadi langganan. Selain arusnya terpecah jadi dua, ada pulau kecil di tengahnya, dan airnya juga lebih tenang, cocok untuk pemula yg masih kelas 3-4 SD.

Udin yg paling tahu kondisinya. Sebagai anak yg dikenal bernyali gede, Udin memang yang paling berpengalaman, karena rumahnya paling dekat ke sungai ketimbang yang lain. Ia paling tahu seluk beluk kali dan lingkungannya.

Udin juga yang mengajak teman-temannya mampir ke kebon singkong, 50 meter sebelum memasuki hutan bambu Ciliwung. Ia mengajari teman-temannya membuat api bakar-bakaran dari ranting untuk membakar singkong. Singkong bakar ini jadi bekal ngemil anak-anak saat ngobak di Cili.

"Jangan ribut! nanti ketauan yg punya kebon! Bersiin bekasnya, kubur di tanah!" pesannya.

Belum berapa menit Udin berpesan terdengar teriakan. "Wooooy...!" Lantang dari kejauhan.

"Ayo kabur!" serunya. Anak-anak mengambil langkah seribu. Sisa-sisa bara dan batu-batu masih berserakan. Padahal, si pemilik kebon bukan takut singkongnya habis, tapi justru geram melihat sampah arang bakaran yg menambah pekerjaan.

Anak-anak itu sudah lari menjauh, memasuki hutan bambu. Udin memimpin teman-temannya. "Jangan salah omong, nanti kesambet! Ada dedemit poon bambu!" katanya meyakinkan

Junes, Engkis, dan Dani menatap tajam celah-celah antara pohon bambu. "Braaaaaakk!" terdengar keras

Anak-anak berlari kencang ketakutan. Hanya Udin yg cekikikan. Ia tahu, itu cuma Musang pohon bambu. Selain Musang, hutan bambu Ciliwung ini juga dihuni ular-ular pohon. Bahkan, suatu waktu, ular piton besar sebesar lingkaran ban motor sepanjang 3 meter lebih berhasil ditangkap warga.

Tiupan angin menggoyang-goyang pohon bambu. Derunya membaur dengan debur arus Ciliwung, menyenandung irama alam. Kicauan burung menambah semangat siapa pun yang ingin bercengkrama dengan Ciliwung. Konon, Ciliwung dilalui pasukan Sri Baduga Maharaja yang ingin menuju Sunda Kalapa. Kabarnya, Legenda Betawi Si Pitung, juga menyusuri Ciliwung menuju Depok, bersiasat melawan kompeni (VOC) pimpinan Scout Heyne.

Tapi Udin dan teman-teman justru lebih terbius cerita "Buaya putih", dedemit Ciliwung yang sering makan tumbal anak-anak. Korban Ciliwung; anak terbawa arus ataupun tenggelam memang bukan isapan jempol. Beritanya menghiasi koran-koran ibukota, berita radio dan televisi.

" Hati-hati! Yg bocah kecil di pinggir aja! Yg punya nyali, boleh kita nyebrang, bikin rante pegangan!" Seru Udin memberi komando. Ciliwung, secara alami membuat jenjang level keterampilan; jago, mahir, anak bawang. Yang jago adalah anak-anak yang punya pengalaman panjang. Biasanya mereka yg diandalkan jadi penjaga teman-temannya. Yg mahir, sudah cakap ngobak, tapi belum terlalu mengenal medan. Yg anak bawang adalah pemula yang masih belajar. 

Junes, Engkis, Dani, dan Agus berada di level mahir. Mereka mampu menyebrang Ciliwung pake rante manusia. Kalau datang getek (rakit nelayan), mereka ikut menumpang sampai puluhan meter. Anak-anak bawang cukup main di kali cetek (dangkal), main kedebong pisang yang jadi perahu-perahuan. Sementara yang jago seperti Udin, terus menyebrang menantang arus, dan berenang di tengah. Udin jadi jenderalnya. Ia bertanggungjawab terhadap keselamatan teman-temannya. Ia yang memberi komando, kapan anak-anak harus naik sebentar, ataupun menyudahi petualangan. "Naek cepetan!! Ati-ati!" perintah Udin. Anak-anak sigap langsung cepat-cepat menepi.

Mereka bertanya-tanya mengapa harus menepi. 

"Ranjau! Ranjau!" kata Dani menahan tawa. Kebingungan sirna, mereka semua tertawa lepas. Ranjau itu hanyalah istilah kotoran sisa buang hajat manusia yang tiba-tiba melintas. 

"Tokai! Jangan sampe mandi tokai!"  Canda Udin sambil menguyah Singkongnya yang tersisa satu gigitan.

"Ayo naek semua! Besokan lagi!" Seru Udin memberi intruksi. Anak-anak pun mengenakan kembali pakaian. Rambut basah acak-acakan, bau menyengat dari tubuh, menyisakan jejak petualangan Ciliwung. Bagi Udin, yang terpenting adalah teman-temannya senang,  bocah-bocah kelas 3 dan 4 juga dapat pengalaman. Tanggungjawabnya selaku senior kelas 5 tuntas, tanpa menyisa petaka. Menorehkan jejak petualangan Ciliwung dengan penuh damai. Tanpa harus ada berita musibah anak hanyut terbawa arus. Tanpa perlu menambah panjang mitos buaya putih Ciliwung yang menyesatkan.

Inspired by true story


Catatan:

 1. Kebon singkong Ciliwung Maengket sudah berubah jadi Perumahan Pesona Khayangaan.

2. SDN Mekarjaya 34 sudah jadi sisa sejarah. Disdik menggabungnya kembali dengan SDN Mekarjaya 5 di jalan Legong

3. Ahmad Nazarudin (Udin) telah wafat, meninggal di masa SMP di sawangan, karena jatuh dari omprengan mobil (nebeng/nge-BM), sekitar thn 93.

Courtesy foto: 

1. film "berandal-berandal ciliwung"

2. ciliwung, dibawah jembatan GDC (dans)





Komentar

Postingan Populer