Pria Nokturnal
Mengejar Bus Patas P.54 Jurusan Depok-Grogol malam-malam. Rutinitas yang saya lakoni waktu dapat giliran shift malam. Tapi saya tak punya pilihan. Bus tua ini memang jadi andalan, jadi satu-satunya bus yang bisa menurunkan saya tepat di seberang kantor yang terletak di Jalan Gatot Subroto. Setiap tugas malam, saya harus berada jam 9 malam di Terminal Depok. Bila telat, terpaksa harus rela turun naik kendaraan di Pasar Minggu.
Seiring berjalan waktu, saya tak perlu lagi mengejar P.54. Ritmik bekerja malam dan selah-nya sudah cukup saya kuasai. Terlebih saya sudah dapat fasilitas jemputan dari kantor yang menunggu di depan rumah. Tak seperti dulu berburu P.54, saya cukup berangkat jam 00.00 dini hari, saat jam-jamnya orang tertidur pulas. Minimal tak seribet dulu, tak lagi berlelah-lelah sampai ke kantor. Tinggal duduk manis, meneruskan tidur disebelah driver.
Pukul setengah 9 malam biasanya saya beranjak tidur, terus bangun jam setengah 12 malam untuk bersiap berangkat. Aktivitas saya memang tidak diketahui orang, kecuali tetangga dekat. Saya keluar saat orang-orang tidur, dan tidur saat orang-orang bekerja. Tak heran banyak orang mengira saya pengangguran. Kerjanya mengasuh anak saat siang, sementara istri malah bekerja. Dunia terbalik katanya.
Sekitar 10 tahun saya seperti hewan nokturnal. Mencari makan di malam hari, tidur waktu siang. Ternyata di sepanjang jalan, banyak pula manusia seperti saya. Mulai dari adik-adik kecil yang berkeliaran di lampu merah, sementara si pendamping, entah orangtua, om, tante atau bos mereka justru di pinggir jalan, pekerja kontruksi jalan, pekerja panggung jasa Even Organizer, satpam perkantoran, orang-orang pasar, dan (maaf) kupu-kupu malam.
Lambat laun saya seperti menikmati pola kerja melawan ritmik normal. Tak ada hiruk pikuk manusia di ruangan, tenang, santai, ditambah bonus libur tambahan. Apalagi saya sudah biasa menyiasati waktu tidur, istilahnya “tidur kredit”. Karena sudah tahu pola kerja, kapan waktu menggarap kerjaan dan waktu bersantai. Yang terpenting beres, dan tak mengabaikan tugas.
Saya merasa menang ketika pulang lepas waktu shubuh. Melihat orang-orang membludak di stasiun, berpacu dengan waktu agar tak terlambat masuk kerja. Sedangkan saya berjalan santai, seperti tak peduli waktu. Orang-orang berdandan rapih, necis, dan wangi semerbak. Berbeda dengan saya yang kucel, kusam dan lecek. Setiap pagi, saya melawan arus orang umumnya berkendara. Bila mereka pergi dari Depok menuju Jakarta. Saya kebalikannya.
“Memang cape mas kalo kerjaan jaga malam!” kata seorang bapak yang duduk di sebelah saya. Saya mengangguk mengiyakan. “Apalagi tanggung-jawabnya berat, supaya situasi tetap aman!” tambahnya. Bapak itu bercerita tentang pengalamannya waktu menjaga malam. Saya hanya terpaku mendengarkan. Sesekali merespon, “Oh gitu!” sambil mengangguk-angguk. Saya pikir ini adalah cara efektif menghadapi lawan bicara yang lebih banyak bicara. Cukup diam, mendengar sesakma. Ibaratnya, kita audiensnya.
Kereta tiba di Stasiun Depok Baru pukul 06.30 pagi. Pemandangannya masih sama seperti Stasiun Sudirman. Padat. Kadang saya bertemu teman dan tetangga jauh di perjalanan menuju angkot.
“Abis jaga?!” melempar senyum ke arah saya
“Iya nih! Balas saya singkat
Angkot biru siap mengantarkan sang penjaga malam pulang ke rumah. Memulai tidur saat orang bekerja.

Komentar
Posting Komentar