All Of Us Are Sick (1)
Keputusannya dipending! Mohon maaf, semoga keputusan ini bisa dipahami!
Pesan di grup WA seperti petir menyambar di siang bolong. Survey sudah dilakukan, uang sudah terkumpul, donasi bantuan berupa baju layak pakai, mainan anak, barang-barang hingga sumbangan sudah digalang, bahkan DP untuk akomodasi dan transportasi sudah dibayarkan. Buyar!
Even perdana yang ditunggu-ditunggu gagal sekejap mata. Tabaraka (WisaTa BelajAR dan BerKArya) di Desa Tegalwaru untuk kelas VIII terpaksa ditunda dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Berita kasus covid-19 pertama di Indonesia yang menjangkit 3 warga Depok di awal Maret 2020, memaksa sekolah-sekolah diliburkan. Apalagi, 3 orang yang terinfeksi, hanya beberapa kilometer dari sekolah kami. Makin horror rasanya, bila serombongan guru dan siswa SMP dari sekolah di Depok, melaksanakan karya wisata di sebuah desa di Bogor ditengah ramainya berita headline kasus covid-19 di Depok.
“Seluruh kampung di Bogor terjangkit Covid-19 usai menerima kunjungan serombongan siswa sekolah yang letaknya tak jauh dari korban infeksi covid” . Demikian khayalan yang melintas tentang berita surat kabar soal karya wisata sekolah kami. Sebagai ketua pelaksana, kecewa pastinya. Tapi apa daya semuanya diluar kehendak manusia. Tabaraka gagal, dan saya harus terbaring sakit selama sepekan lebih. Demam tinggi beberapa hari, sakit kepala hebat, nyeri sendi dan lemah lunglai tak bertenaga, justru menyapa ditengah kecewa. TABARAKA! Putar otak cari nama, buyar sekejap mata.
Sehebat apapun rencana manusia, tetap tak bisa mendahului kehendak Tuhan. Terlalu lemah diri untuk mampu membaca kejadian di masa depan. Persis seperti kisah Nabi Musa dalam pengembaraanya bersama hamba Allah bernama Hidir. Kesabaran dan prasangka baik harus dikedepankan untuk memahami peristiwa yang sulit dipahami.
(To Be Continued….)

Komentar
Posting Komentar