All of Us Are Sick (2)
" Pandemi bakal lama pak! Bisa tahunan...Kayanya dalam 3 bulan ke depan pun sulit kita bakal pergi!" celetuk Bu Fathin
" Ah, barangkali aja cuma 1-2 bulan, siapa tahu saja mereda! timpal saya
Seluruh analisa para ahli tentang iklim tropis Indonesia tak cocok untuk Covid, mentah!! Kenyataannya korban terinfeksi terus bertambah. Dari awalnya kluster kelas dansa, merambah kluster perkantoran, keluarga hingga sekolah.
Sekolah pun mengikuti kebijakan isolasi, lockdown, PSBB, PPKM, apalah namanya. Judulnya tutup. Semua siswa dan guru belajar dan mengajar dari rumah. Situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Hari demi hari, guru-guru hanya bisa memberikan tugas via WAG. Sedangkan anak-anak hanya mengirim foto tugas yg dikerjakan. Itu pun sekedar melintas di HP guru. Setelah dicek, langsung di-delete, khawatir hang karena memory penuh. Periode awal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi hal yang membosankan. Indonesia tidak mempunyai kurikulum darurat yang bisa berdamai dengan situasi bencana berskala besar.
Sebagai negara muslim terbesar di dunia, dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah Cina, India, AS tentu bukan hal mudah menjaga 273 juta jiwa dari infeksi wabah covid. Jangan bandingkan dengan Singapura yang sigap melakukan tracking. Selain jumlah penduduk sedikit, wilayah kecil, mereka didukung sistem layanan kesehatan yg mumpuni.
Berita viral lumpuhnya Italia, Iran, Brazil, sepertinya cuma soal waktu, menanti giliran Indonesia. Bukankah akhir tahun 2019 kita masih santai menyimak berita Wuhan yang di-lockdown. Kita masih jumawa, "Tak ada kasus covid di Indonesia", "Indonesia terlindungi dari Covid". Tak ada antisipasi dengan pemberlakuan blokade terbang dari luar negeri, tidak ada karantina warga asing atau warga lokal yang keluar masuk Indonesia. Semuanya berjalan normal, hingga bola api itu perlahan membesar.
" Welcome Cov!"

Komentar
Posting Komentar