Pelajaran Toleransi Dalam Islam

Memberi pelajaran anak tentang toleransi dalam bingkai kebhinekaan seperti mengulas kembali sejarah indahnya toleransi dalam Islam. Mirisnya, saat ini, umat Islam justru yang menjadi korban intoleransi. Apa yang menimpa Muslim Uighur di Cina, atau Muslim Rohingnya di Myanmar adalah beberapa contoh potret buram toleransi beragama. 
 
Potret toleransi kasat mata yang patut menjadi contoh bagi anak bangsa adalah saat berlangsungnya Aksi Umat Islam, 11 Februari 2017. Saat itu, pengantin beragama Nasrani yang ingin melangsungkan pernikahan di Gereja Katedral mendapat pengawalan ormas Islam. Mereka aman, dan tak mendapat gangguan.
 
 Kesan Pengantin Dikawal Aksi 112 saat Menikah di Katedral - News  Liputan6.com
 
Keindahan toleransi dalam Islam sudah terlukis pada masa Nabi Muhammad SAW membuat Piagam Madinah yang menjunjung kehormatan dan menjamin hak-hak beragama dan kehidupan non-muslim.
Pelajaran Rasul Mulia ini terwarisi saat Tariq Bin Ziyad memperluas kekuasaan Kekhalifahan Islam Bani Umayyah hingga Andalusia (Spanyol) pada tahun 711 M. Gereja-gereja umat Kristen dan Sinagog Yahudi dibiarkan tetap berdiri. Kebebasan beragama dijamin penuh. 
Hari Ini di 711, Tariq ibn-Ziyad dan Pasukannya Mendarat di Gibraltar |  Republika Online
 
Demikian halnya saat Pahlawan Islam, Salahudin Al Ayyubi membebaskan Yerusalem yang dikendalikan kaum Kristen tahun 1187. Meski berhasil merebut Yerusalem, Salahudin tetap menjamin kehidupan pasukan kristen yang telah menyerah. Kebijaksanaan dan kedermawanan Salahudin, yang dikenal di dunia barat sebagai Sultan Saladin, turut dimunculkan dalam film garapan sutradara kenamaan Yahudi-Amerika, Steven Spielberg, "Kingdom of Heaven". Dalam film tersebut, terselip dialog kemamusiaan Salahudin dan pemimpin pasukan kristen, Balian dari Ibelin.
 
 Siege of Jerusalem, 1187 - Third Crusade Podcast Episode 2 - YouTube
 
Saladin menawarkan jaminan penuh keselamatan jiwa umat kristen dan keamanan gereja-gereja. Dalam sejumlah adegan juga digambarkan bagaimana Salahudin memungut salib yang terjatuh dan menawarkan tabibnya kepada Raja Yerusalem, Baldwin IV, yang menderita lepra.
 
 Saladin: I pray you pull back your cavalry and leave this matter to me.  King Baldwin: I pray you retire unharmed to… (With images) | Kingdom of  heaven, Heaven movie, King baldwin

Pembebasan Konstantinopel (1453) juga tak lepas dari nilai toleransi. Sultan Mehmed II, yang dikenal di dunia Islam sebagai Muhammad Al Fatih, memberikan hak-hak umat Kristen dan Yahudi, membiarkan rumah-rumah ibadah mereka, bahkan beberapa justru mendapat kedudukan terhormat dalam otoritas kesultanan. Kaum Kristen dan kaum Yahudi pada saat itu, lebih senang Konstatinopel (Islambul--artinya Kota Islam--, kini Istanbul) dalam kendali Sultan Mehmed II yang adil menjamin hak-hak sosial dan ekonomi mereka.
 Forever Learner: Review Film Fetih 1453 V.S Buku Muhammad Al-Fatih (karya  Felix Y. Siauw)
Bahkan jauh sebelum adanya Hukum Perang (Hukum Humaniter Internasional), Islam sudah lebih dulu mengedepankan kemanusiaan dan toleransi dalam perang. Islam sudah melarang membunuh orang-orang tua lemah, wanita dan anak-anak, yang disebut non-combatan (sipil tak bersenjata). Tak boleh membunuh rahib yang beribadah, menghancurkan tempat ibadah dan yang memiliki maslahat bagi manusia.
 
Keindahan toleransi ini tak lepas dari pesan kedamaian dan kasih sayang yang dibawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, Rahmatan Lil'Alamin.

Komentar

Postingan Populer