Buku Kenangan
Kembali ke dunia mengajar seperti membuka buku kenangan yang lama tersimpan. Sekitar sepuluh tahun lamanya meninggalkan dunia yang pernah digeluti hingga akhirnya takdir membawa kembali.
Saat berdiri di depan kelas untuk pertama kalinya, saya masih agak canggung, mungkin bisa dibilang demam panggung. Sudah lupa bagaimana dulu berkomunikasi dengan anak-anak remaja di SMP-SMP Sumedang, di kelas-kelas bimbel, atau membina anak-anak Post-TPA, pengajian remaja yang mengakomodasi anak-anak baru gede (ABG) yang malu mengaji di TPA. Sudah hilang semua ingatan Game-game Ice Breaking atau cerita-cerita gaul a la remaja.
Belum lagi mengubah kebiasaan a la pekerja
media yang terkesan urakan dan selebor. Bahkan, sampai harus diingatkan sesama rekan
guru, misalnya soal rambut yang sudah mulai gondrong. Ada jurang yg tajam memang
antara tampilan gaya santai a la orang media dan tampilan formal a la pendidik.
Guru, digugu dan ditiru katanya. Sampai pernah ragu ketika home visit dan bagi
rapot. Beneran? Kayanya ga banget! Ngomong ke ortu soal perkembangan anaknya di
sekolah. Wah, selama ini saya cuma ngadepin benda-benda mati yang tak
berbicara. Paling-paling hanya celetukan editor visual, "Woy pake gambar
apa nih barang, gambarnye kurang??!" kata rekan editor mengomentari naskah
berita yang miskin visual.
Apa yang bakal dikerjakan esok hari
memang tak ada yang tahu.
"...Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa
yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui
di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal"
demikian kutipan surat Luqman ayat 34
Sebelum saya putuskan untuk kembali ke habitat lama, ada teman guru SD yang sudah saya kenal lama sempat bertanya, "Serius mau jadi guru?!! Kecil gajinya om ngapain!" katanya meragukan kesungguhan niat saya.
Sembari terus beristikharah, seperti
biasa, saya tanya teman-teman baik yang saya anggap bisa memberi nasihat .
"Kalo yang diukur materi, antum mungkin ga dapet, tapi kalo keberkahan
mending antum pindah!" tegasnya menguatkan.
" Sekarang or enggak sama sekali, dan ente akan terjebak lama tak tentu
arah!" kata seorang teman yang lama berkecimpung di dunia pendidikan. Ia
menambahkan bahwa tak ada ujian Micro Teaching di sekolah baru. Ucapan teman
tadi membuat bandul makin bergeser ke arah pindah haluan.
Beberapa tahun lamanya saya mengubah kemudi. Sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang begitu kata sebuah peribahasa. Walau tawaran menggiurkan datang, aku tetap tak akan terbang melayang. Apa pun yang terjadi ke depan, manis dan pahit kenyataan, bahkan hingga tiba waktu kematian, tak akan lagi kubelokkan jalan. InsyaAllah




Komentar
Posting Komentar