Polisi VS Supir Angkot: Bonceng Dimana "Setan"nya?

“ Braaaak “ Sebuah motor menabrak pintu depan mobil angkutan umum jurusan Depok Timur-Pasar Minggu di dekat sebuah pertigaan padat lalu lintas. Sang pengendara jatuh tersungkur, sejurus kemudian merintih kesakitan. Motornya tergeletak dengan kaca spion yang sudah tercopot. Sang penumpang yang membuka pintu depan mobil berkode M-04 tadi berjalan menghampiri pengendara motor yang terluka di lipatan antara dua jarinya.

“ Maaf pak, saya ga sengaja! Maaf, maaf! “ katanya lirih

Aku berupaya meminggirkan sepeda motor si bapak yang masih menyala. Tak berapa lama, sang supir datang.  Tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Beberapa saat kemudian, seorang polisi yang melintas dengan sepeda motornya berhenti di lokasi kecelakaan.

“ Mana surat-suratmu?” Tanya si polisi tegas

“ Nanti dulu, pak! dengar dulu penjelasan!” balas si supir dengan gaya bicara khas suku batak.

“ Iya surat-suratmu dulu!’ tangan si polisi menepuk keras lengan si supir

“ Kenapa pak! Tanya dulu ade kita ini!” menunjuk si penumpang berjilbab yang merupakan siswi sebuah Sekolah Menengah Umum

“ Tidak ada urusan! Kamu jangan bawa-bawa dia!” tutur si polisi dengan intonasi mulai meninggi

Si supir tetap tak menghiraukan permintaan si polisi yang sejak datang terus meminta surat-surat kendaraannya. Si polisi tampak mulai tak bisa menahan emosi, tangan kirinya menggenggam dan memelintir kerah jaket si supir. Tak kalah gertak, si supir membuka jaket jaket seolah siap berkelahi. Beberapa saat kemudian melintaslah sebuah mobil berwarna hitam. Dari jendela tengah mobil yang posisinya masih agak di tengah jalan, sang penumpang meminta si supir langsung dibawa ke kantor. Tampaknya orang yang berada dalam kendaraan adalah seorang pejabat kepolisian tingkat resort atau sektor.

Klakson-klakson kendaraan mulai bernyanyi sumbang. Kemacetan makin bertambah. Tanpa kejadian ini pun, sebenarnya kemacetan lalu-lintas di lokasi pertigaan Jalan Tole Iskandar-Siliwangi-Sentosa Raya sudah parah. Keributan ini memicu kendaraan memperlambat lajunya di dekat lokasi. Entah bagaimana akhir ceritanya, apakah si supir beradu jotos dengan si polisi atau si supir digiring ke kantor polisi bersamaan datangnya beberapa petugas polisi lainnya.

Kalau mencari siapa yang benar, rasanya sulit. Si pengendara motor melaju di sisi kiri mobil berkode M-04. Si supir menurunkan penumpangnya di jalan dan tidak menepi ke bahu jalan. Apalagi sudah bukan rahasia lagi, kelakuan angkot memang suka berhenti seenaknya, atau memotong jalur tanpa memberi lampu sen. Sementara si penumpang membuka pintu depan mobil tanpa menoleh kebelakang. Padahal banyak motor melaju di sisi kiri kendaraan di tengah kemacetan. Sedangkan si polisi kurang bijak bersikap, cenderung mengedepankan egonya sebagai aparat. Ia langsung memvonis si supir bersalah tanpa meminta keterangan terlebih dahulu.

Situasi di jalanan memang seringkali membuat emosi pengendara labil. Para pengendara seperti kerasukan setan jalanan. Entah karena terbawa hawa panas mesin kendaraan atau karena kelelahan dan stress di jalan. Ini ditambah keinginan cepat sampai tujuan, bisa jadi karena sudah terlambat atau ingin cepat beristirahat. Parahnya, kondisi dibarengi hilangnya tanggungjawab dan kedisiplinan berlalu-lintas.

Sebagian kita mungkin pernah secara sadar melanggar rambu-rambu kendatipun kita tidak anggap tidak membahayakan diri kita. Padahal bisa jadi tindakan kita membayakan orang lain. Tak perlu jadi pembalap F1 atau motoGP! Tak ada penghargaan dan piala di jalanan. Paling-paling hanya celoteh kesal atau sumpah serapah pengendara lain.

Berdoalah sebelum bepergian supaya setan jalanan, dari mulai si manis jembatan ancol, kolor ijo ampe kapak merah gak ikut boncengan. Belajar disiplin dengan taat aturan lalu-lintas, dan selalu berhati-hati. Jangan kedepankan emosi dan berusahalah sabar kalau ada pengendara yang “slonong boy” or “motong boy”.

“Ingat keluarga anda menunggu di rumah!” begitu bunyi pesan spanduk yang terpampang di jalan-jalan. Tapi kalau sudah melakukan itu semua masih juga celaka akibat menabrak atau ditabrak. Jangan salahkan siapa-siapa, berlapang hatilah, sudah suratan takdir namanya.



Komentar

Postingan Populer