Air Mata Bunda (6)

Air mata membasahi pipi istriku saat melihat tubuh mungil bayi kami di boks inkubator. Aku hanya bisa menghiburnya, sambil menyanyikan sebuah lagu nasyid lama anak Malaysia yang sering aku nyanyikan sewaktu istriku mengandung.

Ya Allahu Ya Allah

We Are Your Servant Ya Allah

We Adore You ya Allah

Subhanallah Subhanallah

Lailahaillallah Muhamadurrasulullah

Ya Allahu Ya Allah

Kami Hamba-Mu Ya Allah

Kami memuji-Mu Ya Allah

Maha Suci Allah Maha Suci Allah

Lailahaillallah Muhamadurrasulullah

Tubuh mungil yang masih dibantu pernafasan oksigen itu perlahan bergerak, merespon suara yang akrab didengarnya sejak dalam kandungan.

“ Dedenya, gerak mas! Apal ma suara masnya!” wajah istriku sumringah, teriring senyum

“ Iya, dedenya sehat tuh, de! Cantik kaya bundanya!” sambil membalas senyuman bunda

“ Mas kasian ya dede!” kata bunda pelan, sambil meneteskan air mata

“ Insya Allah ini yang terbaik buat dede! sehat kok, tuh liat ga pake apa-apa selain cuma oksigen!” kataku meyakinkan

Ruang NICU tentu berbeda dengan ruang “bayi sehat” yang ditempati bayi-bayi yang terlahir dalam keadan sehat. Di ruangan ini bayi-bayi BBLR, prematur, kuning, terminum air ketuban, atau gangguan kelahiran lainnya ditempatkan. Aku sebenarnya juga tidak tega melihat bayi-bayi mungil diinfus, dan dikerubuti selang-selang untuk memasukan obat ataupun keperluan medis lainnya. Bayangkan, bayi-bayi kecil itu harus ditusukkan jarum infus, atau jarum selang di kaki atau tangannya.

Bayi kami tidak memakai apapun selain bantuan oksigen. Menurut penjelasan suster tentang hasil observasi tim dokter, bayi kami sehat, dan tidak mengalami gangguan kesehatan lainnya, sehingga tidak perlu diinfus dan diberi obat. Bayi kami hanya mengalami asfiksia akibat persalinanannya yang sulit. Pernafasan oksigennya juga akan segera dilepas melihat pernafasan alamiahnya yang berangsur pulih.

 
Mendung menggelayuti wajah istriku. Ia bertambah murung ketika melihat kereta dorong bayi memasuki ruang perawatan. Biasanya, bayi-bayi yang baru lahir mengunjungi ibu-ibu mereka di ruang perawatan setiap harinya untuk belajar menyusui dan berkenalan dengan si ibu. Tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi si ibu dan seluruh keluarganya. Namun, khusus bagi bayi-bayi di ruang NICU, mereka tidak diperlakukan demikian, mengingat kesehatannya yang terganggu.

“ Ade, tahu gak, ade tuh mungkin ibu paling hebat di rumah sakit!” kataku mantap

“ Kenapa?” balas bunda singkat

“ Gimana nggak, coba tanya serumah sakit ini!  ada ga yang lahiran secepat ade? cuma dalam waktu 15 menit kurang! Udah “ bukaan “ 7 pas sampe sini lagi! Ga ada yang nemenin lagi!”

“ Iya ya, mas!” bunda mulai tersenyum

“ Itu namanya kemudahan! Alhamdulillah!”

“ Tapi mas, dedenya?!”

“ Kan ade dah denger tadi, dede tuh bayi tersehat di ruang NICU!”

“ Tapi kapan kesininya?”

“ Iya nanti besok-besok juga kesini! Eh, kita cari nama aja yuk!” bujukku untuk mengusir kemurungan istriku

“ Mas maunya namanya gimana?”

“ Kalo dari mas maunya, Shafa! Kalo ade sendiri gimana?”

“ Boleh juga, kenapa mas suka nama itu? Keingetan siapa?!” balas bunda memperlihatkan kecemburuan

“ Iya ada yang mas inget! Inget orang-orang shalih yang tulus ibadahnya! Kan Shafa artinya murni atau bersih, mas pengen Shafa jadi orang yang murni, bersih hatinya, amal-amalnya karena Allah, ga bercampur dengan kesyikiran!” kataku menegaskan

“ Iya gapapa, ade juga cocok! Kalo nama panjangnya?”

“ Karena belakangan ini mas sering baca surat Ar Rahman, mas pengen nama panjangnya  Khairatun Hisan[17]!”

“ Ya udah Shafa Khairatun Hisan! Mudah-mudahan anak kita seperti namanya, jadi anak yang bersih hati dan perbuatannya seperti bidadari surga yang baik dan cantik!” kata-kata bunda ini mengakhiri obrolan kami di ruang perawatan siang itu


Tidak ada lagi yang kami bisa lakukan untuk membantu pemulihan kesehatan Shafa selain berdoa seusai shalat.

Ya Allah Yang Maha Menciptakan dan Menyempurnakan Penciptaan…

Ya Allah Yang Maha Menentukan Kadar Segala Sesuatu dan Memberinya Petunjuk…

Ya Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan dan Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu…

Ya Allah Ya Ghafur (Yang Maha Pengampun)

Kami Yang Bergelimang Dosa Ini Memohon Ampunan  Atas Segala Kekhilafan dan Kedurhakaan Kami…

Ya Allah Ya Qawwiy (Yang Maha Kuat)

Kami Yang Lemah dan Tidak Berdaya Ini Memohon Kekuatan Dan Pertolongan…

Ya Allah Ya Salam (Yang Maha Menyejahterakan)

Kami Mohon Berikanlah Kesejahteraan Kepada Bayi Kami…Engkaulah Sebaik-Baiknya Pemberi Sejahtera…

Ya Allah Ya Mumin (Yang Maha Melindungi)

Kami Mohon Berikan  Perlindungan  Kepada Bayi Kami… Engkaulah Sebaik-Baiknya Pelindung…

Ya Allah Ya Muhaimin (Yang Maha Memelihara)

Kami Mohon Berikan Pemeliharaan Engkau Kepada Bayi Kami… Engkaulah Sebaik-Baiknya Pemelihara…

Ya Rahman…

Cukupkanlah Rizkinya, Perbaikilah Kondisinya…

 

Hari demi hari aku lalui bersama istriku di rumah sakit. Aku mengambil cuti dadakan selama 2 minggu untuk mengurus segala keperluan istriku dan Shafa. Kalau siang mungkin ada kedua orang tua kami silih berganti menjaga, namun khusus untuk malam hari, hanya aku sendiri yang menjaga, mungkin tepatnya menemani istirahat. Istriku tidur di kasur rumah sakit, sedangkan aku tidur di kolong tempat tidur beralas tikar, menunggu panggilan istriku yang biasanya meminta ditemani ke kamar kecil. Selama di rumah sakit, kami merasakan indahnya persaudaraan. Kalau tidak karena saudara-saudara, tetangga-tetangga, dan sahabat-sahabat kami yang bergantian memotivasi dan menguatkan, tentu terasa sangat berat menjalani ujian ini.

Istriku akhirnya diijinkan pulang pada hari ketiga di rumah sakit. Namun, Shafa masih harus dirawat karena reflek hisapnya masih belum berfungsi semestinya.

“ Shafa bisa pulang kapan, dokter?” tanyaku ke dokter kepala di ruang NICU

“ Shafa itu anak tersehat disini, Pak! Kalau yang lain butuh obat-obatan, Shafa tidak pakai apapun!” jawab si dokter spesialis anak

“ Jadi apa lagi yang harus dittunggu dokter?”

“ Bapak sabar dulu! Shafa seperti mengalami amnesia akibat persalinannya, jadi lupa cara menghisap!”

Selama dirawat di ruang NICU, Shafa memang menggunakan selang untuk kebutuhannya meminum susu. Pihak rumah sakit meminta izin untuk menggunakan susu formula karena Shafa butuh minum ASI untuk meningkatkan beratnya, sementara ASI bundanya belum juga keluar. Dokter menyarankan kami menunggu hingga reflek hisapnya bagus kendatipun sebenarnya dokter mengijinkan pulang asal kami menandatangi surat pernyataan di luar tanggungjawab dokter dan pihak rumah sakit. Dokter khawatir kami tidak bisa merawat Shafa di rumah, karena perawatan bayi berbobot kecil berbeda dengan bayi normal.

Orang-orang dulu menggunakan prinsip yang sederhana merawat bayi BBLR ataupun prematur. Seperti layaknya anak ayam, si bayi diberi penerangan lampu dan botol berisi air panas yang dibalut kain di sisi kanan dan kirinya. Untuk meminumkan susu, mereka menggunakan sendok, perlahan-lahan dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mengenal ruang NICU seperti sekarang ini, selain penanganan alamiah tersebut. Toh, anak-anak mereka tetap tumbuh sehat, hanya sedikit kasus yang meninggal dalam penangangan demikian. Kami tidak melakukannya karena tidak mengerti ilmunya. Akhirnya, kami lebih memilih membiarkan Shafa dirawat hingga benar-benar sehat kendatipun kami terpaksa harus menanggung biaya lebih banyak.

Sebenarnya besar-kecilnya resiko tergantung berat lahir si bayi, dan penyakit yang menyertainya. Ada bayi yang sebesar botol aqua 600 ml dirawat di ruang NICU selama 6 bulan, bahkan ada bayi dengan berat 600 gram, yang tercatat sebagai bayi prematur terkecil di dunia, dirawat selama 9 bulan di ruang NICU akhirnya merasakan kehidupan. Lingkungan bayi di inkubator dengan segala infus dan selang-selang dibuat sedemikian rupa seperti dalam rahim ibu. Namun, teknologi secanggih apapun tidak bisa menandingi rahim ibu sebagai tempat terbaik bagi bayi. Para dokter sendiri yang menyebut rahim adalah tempat teraman bagi janin.

Al Quran menyebutkan rahim ibu sebagai “Qaraarimmakiin” atau “tempat yang kokoh” seperti disebutkan dalam Surat Al Mursalaat ayat 21-23.

Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.”

Selama Shafa dirawat di rumah sakit, kami tinggal di rumah ibu, hanya sesekali aku sendirian menempati rumah kontrakan kami. Kalau istriku menghabiskan waktunya di rumah ibu untuk pemulihan kondisinya, aku harus bolak-balik ke rumah sakit mengantarkan ASI untuk Shafa. Saat di rumah ibu, hari-hari istriku tidak terlewat tanpa tangisan. Ia rindu buah hatinya dan ingin Shafa berada di dekatnya. Mungkin saja istriku terkena sindrom baby blues[18] setelah mengalami situasi sulit sebelum akhirnya melahirkan.

“ Ade pengan mati aja! Pengen pensiun jadi ibu!” sambil terisak

“ De ga boleh ngomong gitu...! kasian Shafanya, nanti dia ngerasa lo, jadi malah lemah juga!” kataku berusaha menenangkan

Aku berusaha tegar di hadapan istriku meskipun sebenarnya aku sendiri juga bukan orang yang kuat, dan mudah menangis saat mendoakan kesehatan Shafa atau teringat Shafa saat aku berada di rumah kontrakan. Namun, semua itu tidak boleh terlihat di hadapan istriku. Kalau aku lemah, maka bagaimana halnya dengan istriku.

Sampai akhirnya Shafa diijinkan pulang setelah dirawat selama sepekan lebih di rumah sakit. Aku harus mencari uang untuk membayar biaya rumah sakit diluar deposit yang kami setor di awal. Kami bersyukur menerima kenyataan bahwa seluruh biaya rumah sakit ditanggung oleh kantor. Tabungan kami pun tidak berkurang satu rupiah pun pasca persalinan dan perawatan Shafa, justru malah bertambah dengan karunia Allah.

(Bersambung)





[17] Kata “Khairaatun Hisaan” yang berarti Khairaatun= baik, Hisan: indah, cantik disebutkan dalam QS Ar-Rahman ayat 70. Quran menyebut “Khairaatun Hisaan” untuk panggilan para bidadari surga yang baik dan cantik.

[18] Stress atau depresi pasca persalinan. Menurut pakar kesehatan, Baby Blues disebabkan empat faktor, diantaranya: hormon, psikologis, fisik dan sosial. Gejalanya antara lain: sering menangis tanpa sebab, gelisah, tegang, bingung, merasa sendiri, sedih, tampak murung, sakit, marah, merasa bersalah dan tak berharga, punya pikiran negatif pada suami, dan kehilangan nafsu makan.

Komentar

  1. semoga dede shafanya cepat pulih ..

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah....sudah punya mujahidah....semoga shafa tumbuh sehat dan menjadi anak sholehah harapan keluarga...amin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer