Air Mata Bunda (4)

Minggu, 17 April 2011

Sebagai ikhtiar, akhirnya kami jalani juga saran dokter. Sengatan matahari kemarau menambah berat langkah kami. Terbayangkan betapa lelahnya istri yang tengah hamil tua menjalani ini semua. Dua kali kami bolak-balik Depok-Slipi, dokter belum juga memutuskan untuk mengambil tindakan. Hingga kali ketiga, tepatnya hari minggu, kami mendapati kenyataan pahit, tidak ada layanan pemeriksaan kandungan oleh dokter spesialis kandungan. Kami pun memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kembali ke dokter pertama yang memeriksa kandungan istriku di Depok.

 

Senin Pagi,  18 April 2011, 09.00 WIB

Dokter perempuan berjilbab yang mengenakan kacamata itu menyambut ramah, sekaligus agak kaget dengan kedatangan kami.

“ Ibu...,  gimana hasilnya?” tanya dokter sambil tersenyum

“ Iya dok, tim dokter rumah sakit belum juga mengambil tindakan, masih menunggu perkembangan “  jawab istriku sambil menyerahkan hasil cek medis di Slipi

“ Bu, saya sarankan tetap diambil tindakan. Pertumbuhan bayinya kurang baik! “ kata dokter meyakinkan

Dokter tidak melihat sesuatu yang tidak normal tentang kondisi bayi, namun masalahnya ada di pertumbuhan berat bayi tidak sesuai dengan usia kehamilan istriku. Seharusnya grafik pertumbuhan bayi di trimester ketiga lebih pesat, bahkan berat bayi biasanya melonjak drastis. Berat bayi dalam kandungan istriku berdasarkan pemeriksaan USG hanya 2,2 Kilogram untuk usia kehamilan 38 minggu. Seharusnya paling tidak berat badan bayi normal diatas 2,6 Kilogram, dibawah itu tergolong kurang atau tergolong BBLR. Sedangkan hasil USG ada margin errornya, sehingga bisa dipahami berat bayi saat lahir bisa lebih besar atau kecil dari perhitungan USG.

Dokter menyarankan saecar daripada menunggu hingga tiba waktunya karena bulan kehamilannya sudah tergolong tua, sekaligus menjaga agar tidak terjadi komplikasi terhadap si bayi mengingat kepala si bayi belum menuju jalan keluar . Dokter menawarkan kepada kami, apakah mau dia yang menangani atau mencari rumah sakit dengan jaminan Askes (Asuransi Kesehatan) dengan pertimbangan biaya perawatan bayi kecil cukup mahal.

“ Bisa diatas 1 Juta, tapi kalau kondisinya baik, bisa cepat keluar NICU. Paling ga, 3-4 hari!” dokter berusaha menenangkan.

Subhanallah, 1 juta lebih per hari. Uang dari mana? Belum lagi biaya bersalinnya. Kami pun memutuskan memilih rumah sakit pemerintah di Pasar Rebo yang bekerjasama dengan Askes. Dokter kemudian menulis surat rujukan tindakan untuk dokter di rumah sakit tersebut. Kami disarankan memilih hari. Kami pun memutuskan untuk mengambil tindakan hari kamis besok.


Senin Sore, 18 April 2011, 15.00 WIB

“ Mas tolong ade!” keluh istriku dari kamar mandi

“ Ada apa, de? “ bergegas menghampiri

Istriku mengeluhkan adanya flek yang tidak pernah dialami sebelumnya. Setelah bertanya-tanya ke beberapa tetangga, kami dapati jawaban bahwa itu adalah tanda-tanda akan bersalin. Namun, istriku belum merasakan kontraksi dan nyeri hebat dengan kandungannya. Aku bergegas mencari taksi untuk meluncur ke rumah sakit pemerintah di pasar rebo. Bapak dan ibu juga turut menemani. Kami pun tidak merasakan situasi darurat, karena istriku tidak mengeluh sakit apapun. Dalam perjalananan, kami bercakap-cakap untuk menghilangkan ketegangan, tak lupa doa kami panjatkan, berharap semuanya berakhir baik

 

Senin Sore, 18 April 2011, 17.20 WIB

“ Sudah tutup pak layanan pemeriksaaan kandungannya!” kata seorang petugas pendaftaran

“ Lalu saya harus kemana? saya dapat rujukan tuk ambil tindakan?” pinta saya memelas

“ Kalau begitu bapak ke UGD aja, periksa di sana!” tegas si petugas

Akhirnya kami pun berjalan menuju UGD. Istriku tidak terlihat seperti orang yang akan bersalin, sehingga tidak terkesan adanya kondisi “darurat”.

“ Apa-apaan ini, tau-tau minta diambil tindakan?!” kata dokter ketus

Saya langsung menyerahkan surat rujukan dokter di Depok. Tapi, ekspresi dokter itu tidak berubah, masih dingin seperti saat menyambut kami.

“ Periksa dulu!” tegas dokter singkat

Teriakan istriku membuat kaget seisi ruangan. Tenaga medis disana, menggunakan cara alami dengan menggunakan tangan yang berbalut kapas untuk memeriksa kondisi bayi dalam kandungan.

“ Masih lama ini! Belum ada bukaannya, kira-kira 1 bulan lagi!”  kata dokter menegaskan

***

 

“ Kata bapa mah dibilangin masih lama, sebulan lagi lah!” kata bapak yakin

Ibu mengamini sambil menyalahkan dokter kandungan yang menyarankan tindakan. Aku hanya terdiam merenung. Dari rentetan kejadian yang sudah kami lewati, semuanya makin menambah pemahaman bahwa Allah lah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Teringat tausyiah seorang ustadz, pribadi yang bertauhid adalah yang mendahulukan Allah dari siapapun, dan mempercayakan urusannya pada Allah. Tidak ada satupun yang mengetahui, bahkan dokter sekalipun, apakah bayi ini akan merasakan kehidupan atau tidak.

Ya Hayyu Ya Qayyum birahmatika astaghitsu, aslihli sa’ni kullahu walatakilni ila nafsi tharfata’ain wala ila ahadimminnannas “. [8] Inilah doa yang kami panjatkan ketika menghadapi kesusahan ini.


Senin Malam, 18 April 2011, 19.30 WIB

Sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, istriku mengeluhkan keram setiap 30 menit. Dokter di rumah sakit pernah menekankan, saat hamil tua, calon ibu harus awas terhadap gerakan bayi. Minimal, si bayi harus bergerak 9 kali sehari, bila kurang harus diwaspadai, dan segera ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Di beberapa kasus, ada bayi yang ditemukan sudah tidak bernyawa di usia kandungan tua. Bahkan, ada yang berujung pada meninggalnya si ibu, karena terlambat ditangani. Inilah beratnya perjuangan seorang ibu, dengan tetesan darah dan air mata. Bisa dipahami bila pengorbanan seorang ibu yang meninggal saat bersalinnya dicatat seperti amalan para syuhada. Qur’an melukiskan perjuangan ibu dengan sebuah ayat yang menyentuh,

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS Luqman:14)

Selepas menunaikan shalat isya, kami pun berdoa memohon pertolongan Yang Maha Kuat (Al Qawiy). Semuanya masih normal saat kami bersama-sama menyantap makan malam. Beberap saat kemudian, istriku merasakan keram hebat di kandungannya. Ia terus merintih karena rentang waktu keramnya semakin cepat, sekitar 15 menit sekali. Melihat situasi seperti ini, ibu memohon kepadaku untuk mengijinkannya memanggil tukang urut kandungan.

“ Ibu mohon tolong...Ibu panggil tukang urut ya? Ga ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya!” pintanya memelas

“ Ya udahlah, tapi ga keras-keras kan, bu?“ tanyaku ragu

Sebenarnya aku berat memenuhinya, apalagi dengan kondisi istriku seperti ini. Tapi, aku tidak kuasa menolak permintaan tolong ibu dari istriku.

Si nenek yang dikenal sebagai tukang urut kandungan di lingkungan tempat tinggal ibu akhirnya datang.

“ Kenapa dari kemarin ga ke Emak? Padahal anak bidan aja ke emak!” tanya si nenek

“ Udah dibilangin dari kemaren-kemaren, Mak! cuma ga ngerti-ngerti!” Timpal ibu

“ Posisinya dah salah! Tapi Ma usahain!” tegas si nenek sambil mulai mengurut kandungan istriku

“ Kepalanya dah dibawah nih, udah di jalan lahir!” sambung Emak

“ Berapa lama lagi, Ma?” tanya ibu

“ Masih akhir bulan ini mah, lama!” jawab nenek yakin

Jawaban nenek begitu meyakinkan ibu dan bapak, seolah-olah kata-kata nenek “keramat”, sudah tidak mungkin salah. Aku tak terlalu menanggapi, malah menggerutu dalam hati. Tidak seorang manusia pun yang tahu pasti kapan dan apakah bayi ini akan terlahir ke dunia. [9]

Setelah selesai urut, keram istriku berkurang sesaaat. Aku pun meminta izin pergi untuk berangkat kerja. Hari ini, aku memang kebagian tugas kerja malam.


Selasa Dini Hari, 19 April 2011, 00.00 WIB

“ Mas, ade pendarahan!” kata istriku sambil menangis lewat sambungan telepon

“ Masya Allah, langsung ke rumah sakit, de!” cemas menghampiri

Ditengah kegundahan, aku menyempatkan shalat dua rakaat dan berdoa memohon rahmat dan pertolongan Allah. Kemudian bergegas mencari taksi menyusul ke rumah sakit.

(Bersambung)

 

[8] Artinya: Wahai Allah Yang Maha Hidup, wahai Allah Yang Senantiasa Mengurusi, tidak ada tuhan selain Engkau, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan, perbaikilah keadaan diriku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan nasibku kepada diriku sendiri (walau) sekejap mata, tidak pula kepada seorang manusiapun. (HR Thabrani 445)

[9] Baca QS Ar Ra’d : 8

Komentar

Postingan Populer