Air Mata Bunda (5)
Perjalanan dari Senayan ke Depok terasa sangat jauh sekali kendati lalu-lintas lewat tengah malam begitu lengang dan kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.
Ketika hati gundah sementara tidak ada siapun yang dapat menenangkan. Ketika jiwa lemah sementara tidak ada siapun yang menguatkan. Ketika diri ini tidak berdaya untuk melakukan apa-apa lagi disaat orang yang disayangi berjuang antara hidup dan mati. Seluruh jiwa ini telah pasrah berserah.
“ Hasbiyallahu la ilaha illahu alaihi tawakkaltu wahuwa robbul arsy al adhzim “[10]
“ La haula wala quwwata illa billahil `aliyil adhzim “[11]
Perasaan was-was dan prasangka yang tidak-tidak merayap senyap seiring mulai sirnanya kecemasan. Begitu lemahnya iman dalam jiwa ini, belum tertancap kokoh hingga mampu menenangkan fikiran yang berkecamuk.
“ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin “[12]
***
Setiba di rumah sakit, aku buru-buru menuju ATM untuk membayar ongkos taksi. Isi dompet memang sudah terkuras habis untuk membayar ongkos bolak-balik taksi dan keperluan lainnya saat ke Pasar Rebo sore sebelumnya.
“ Mas, ibu ga boleh masuk dan disuruh ngurus administrasi!” kata ibu istriku yang kutemui di dalam ruang ATM
Ibu dan adik iparku tidak diijinkan rumah sakit menenami istriku karena bukan suaminya, termasuk juga dalam urusan tanda-tangan dalam surat pernyataan kesanggupan. Setelah membayar taksi, aku langsung mengambil langkah cepat menuju ruang persalinan.
“ Bapak suaminya?” tanya suster
“ Iya betul mba!” kataku singkat
“ Anaknya sudah lahir!”
“ Istri saya baik-baik saja mba?”
“ Silahkan Bapak lihat!”
Kuhampiri istriku yang terbaring di tempat tidur ruang persalinan.
“ Maafin mas ya de! Ga bisa nememin!” sambil mencium kening dan ubun-ubun kepalanya
“ iya, gapapa! Dedenya dah lahir mas!” senyum sambil menitikkan air mata
“ Iya terimakasih sayang!”
Waktu menunjukan pukul 1 dini hari. Aku terlambat beberapa menit saat istriku melahirkan puteri kami. Suster kemudian mempersilahkanku untuk mengadzankan puteriku.
“ Allahuakbar....Allahuakbar....!” suaraku berat bergetar
Bahagia bercampur haru melihat puteri kami terlahir ke dunia dengan selamat setelah melalui pengorbanan fisik dan perasaan yang melelahkan. Takjub melihat kekuasaan Allah yang menciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna.
“ Bapak, berat bayinya 1, 9 kilogram!” kata suster
Aku tidak bisa menjawab apa-apa
“ Dedenya mengalami asfiksia [13] jadi belum menangis!”
Anak-anak BBLR ataupun prematur mengalami hal ini karena paru-parunya belum berkembang sempurna. Karenanya, biasanya dokter kandungan akan menyuntikan deksametason melalui ibu, tujuannya untuk pematangan paru-paru bayi di dalam kandungan. Kondisi paru-paru menjadi kekhawatiran terbesar umumnya dokter kandungan, karena bila paru-paru bayi masih jauh berkembang dari sempurna, bisa mengancam keselamatan bayi akibat kesulitan bernafas. Gangguan bernafas ini juga mengakibatkan bayi tidak menangis ketika dilahirkan, dan sulit melakukan IMD (inisiasi menyusu dini)[14]. Anak-anak BBLR ataupun prematur biasanya juga berkulit keriput seperti layaknya orang tua karena berat badannya masih jauh dibawah normal. Namun seiring pertambahan berat badannya, kulitnya akan kembali normal seperti bayi-bayi yang lain.
“ Pak, kami meminta izin dedenya untuk dibawa ke ruang NICU, dan diobservasi oleh tim dokter!” kata seorang suster
“ Tapi tidak apa-apa kan, sus?!”
“ Tidak apa-apa, Pak! dedenya hanya asfiksia, jadi kita beri pertolongan!”
Aku diminta untuk menyelesaikan administrasi, sementara bunda dibawa ke ruang rawat inap.
“ Pak uang mukanya Lima Juta Rupiah!” kata seorang petugas administrasi perempuan
“ Maaf, mba, tadi saya kesulitan menarik uang dari ATM, ada gangguan jaringan!”
“ Iya, pak, kami tunggu! Nanti kalau sampai jam 7 pagi belum diserahkan uang mukanya, mohon maaf bapak cari obat sendiri di luar! Kami hanya merawat ibu dan bayinya!” Jelas si petugas
Aku cukup dibuat kaget melihat biaya uang muka yang harus dikeluarkan, Lima Juta rupiah. Si petugas menjelaskan, uang itu untuk deposit biaya ibu dan bayi. Rinciannya Satu Juta Tiga Ratus Lima Puluh Ribu rupiah untuk si ibu, sisanya untuk si bayi. Suster juga meminta pernyataan kesanggupan karena biaya perawatan bayi BBLR tinggi, Satu Juta Lima Ratus Ribu rupiah per hari bila kondisinya perlu penanganan lebih. Meski si petugas berusaha ramah dalam mengingatkan tentang keharusan membayar uang muka segera, namun terkesan menekan dan mengancam. Mungkin ia hanya menjalankan tugasnya, mengikuti SOP sebuah rumah sakit swasta. Sudah menjadi takdir akhirnya istriku harus menjalani persalinan di rumah sakit swasta di Depok, tempat kami rutin memeriksa kandungan. Bukan di rumah sakit di Slipi, dan bukan pula di rumah sakit di Pasar Rebo.
***
Adzan shubuh pun berkumandang. Bunda masih tertidur pulas di tempat tidurnya. Selepas Shalat Shubuh, rasa kantuk mulai menerpa. Aku memang tidak tidur semalaman sejak dini hari tadi. Namun entah dalam selimut lelah, hati ini terdorong ingin membaca surat Ar-Rahman.
“ (Rabb) Yang Maha Pemurah...Yang Menurunkan Al-Quran...Yang Menciptakan Manusia...”
Aku manfaatkan waktu ini untuk berdoa kepada Allah. Hanya doa yang membuatkan hati ini kuat dalam menyikapi kesusahan dan kesulitan. Aku berdoa dengan bertawasul[15] lewat perantaraan sebuah amal kebaikan yang dalam pengetahuanku yang lemah, semata karena Allah. Tidak mengapa kita pamrih kepada Allah atas amal-amal kita dengan harapan doa kita diajabah. Inilah tawasul yang diperbolehkan agama[16]. Bukan mendatangi makam, kuburan ataupun tempat-tempat yang dianggap keramat yang justru merusak tauhid dan menyuburkan syirik.
Bunda terbangun bersamaan datangnya sarapan pagi yang diantar seorang petugas pelayan rumah sakit. Aku menemani istriku di kamar ruang rawat inap, sambil menyuapi istriku sarapan pagi yang terlihat masih segar dan masih hangat.
“ Mas, ikut makan aja bareng!” ajak istriku
“ Gampanglah, entar cari di luar! Ade aja makan dulu!”
Mata mengantuk, perut lapar, harus kutahan dulu sampai bapak-ibu istriku, atau orang tuaku datang. Sambil sarapan, bunda bercerita tentang kejadian di ruang persalinan dini hari tadi.
Dokter kandungan istriku datang ke ruangan persalinan sesaat setelah istriku melahirkan dengan tim bidan rumah sakit. Istriku memang melahirkan begitu cepat hingga dokter tidak bisa tiba pada waktunya di rumah sakit. Ketika tiba di rumah sakit, istriku memang sudah “bukaan” 7, dan hanya dalam waktu 15 menit sejak tiba di rumah sakit, istriku akhirnya melahirkan. Bukan saesar seperti yang ada dalam bayangan selama ini, melainkan normal. Saat melakukan percakapan telepon dengan bidan dalam perjalanan ke rumah sakit, dokter juga sempat terheran-heran dengan perkataan bidan bahwa kepalanya ada di jalan keluar. Bidan itu ternyata memang salah memprediksi karena bukan kepala yang ditarik keluar, melainkan pantat.
“ Duh Ibu...kasian kan dedenya lahirnya jadi sulit seperti ini?” kata dokter yang tiba sesaat setelah istriku lahir
“ Iya dok, semuanya diluar rencana!” jawab istriku
“ Makanya saya menawarkan mengambil tindakan segera untuk mengantisipasi si dede melahirkan traumatis!”
Istriku kemudian menceritakan bahwa kami sudah ke rumah sakit di Pasar Rebo untuk meminta tindakan, namun ditolak, cuma diperiksa dan dikatakan persalinannya masih sekitar sebulan lagi.
“ Ini yang saya tidak suka kalau merujuk-rujuk! Apalagi kalo ke rumah sakit pemerintah!” tegas dokter.
Istriku mengatakan ia merasakan kecemasan dan kepanikan luar biasa di ruang persalinan. Apalagi, semua itu dilaluinya sendirian, tanpa ada suami dan anggota keluarganya mendampingi. Pengalaman inilah yang kemudian memunculkan dampak traumatis yang luar biasa di kemudian hari.
(Bersambung)
[10] Artinya: Cukuplah Allah, tiada Ilah selain dia, dan kepada-Nya kami bertawakal, dan Dialah Rabb yang Maha Agung
[11] Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)
[12] Artinya: Tidak ada ilah(tuhan) kecuali Engkau. Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Doa ini dikenal sebagai doanya Nabi Yunus AS. Beliau Alaihisalam tidak sabar dan kesal dengan perlakukan kaumnya. Ia pergi meninggalkan kaumnya menuju tepi laut. Allah mengujinya hingga membuat Nabi Yunus menjadi orang yang dilemparkan ke laut setelah dilakukan undian di atas kapal. Nabi Yunus akhirnya ditelan ikan besar dan menelan Nabi Yunus. Ditengah kesendirian dan ketidak berdayaan Nabi Yunus memanjatkan doa ini. Quran menyitirnya dalam Surat Al Anbiyaa: 87-88.
[13] Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas scr spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999)
[14] Proses menyusui bayi segera setelah lahir, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri. Tujuannya untuk membantu keberlangsungan pemberian ASI eklusif.
[15] Berdoa atau memohon pertolongan ALLAH lewat perantaraan sesuatu
[16] Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma, dia berkata : “aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda : ’ada tiga orang yang hidup sebelum kalian berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus menginap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata: ’sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas diantara yang mereka lakukan-red). Salah seorang diantara mereka berkata:’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku).
Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada ditanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah Keduanyapun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .
Nabi bersabda lagi: ‘yang lainnya (orang kedua) berkata: ‘ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya; diapun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata: ’tidak halal bagimu mencopot cincin ini kecuali dengan haknya’. Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak mempedulikannya lagi-red) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) emas yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda lagi: ‘kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, diapun datang sembari berkata: “wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab: ’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata : ’wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan’. (Muttafaqun ‘alaih)
Ketika hati gundah sementara tidak ada siapun yang dapat menenangkan. Ketika jiwa lemah sementara tidak ada siapun yang menguatkan. Ketika diri ini tidak berdaya untuk melakukan apa-apa lagi disaat orang yang disayangi berjuang antara hidup dan mati. Seluruh jiwa ini telah pasrah berserah.
“ Hasbiyallahu la ilaha illahu alaihi tawakkaltu wahuwa robbul arsy al adhzim “[10]
“ La haula wala quwwata illa billahil `aliyil adhzim “[11]
Perasaan was-was dan prasangka yang tidak-tidak merayap senyap seiring mulai sirnanya kecemasan. Begitu lemahnya iman dalam jiwa ini, belum tertancap kokoh hingga mampu menenangkan fikiran yang berkecamuk.
“ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin “[12]
***
Setiba di rumah sakit, aku buru-buru menuju ATM untuk membayar ongkos taksi. Isi dompet memang sudah terkuras habis untuk membayar ongkos bolak-balik taksi dan keperluan lainnya saat ke Pasar Rebo sore sebelumnya.
“ Mas, ibu ga boleh masuk dan disuruh ngurus administrasi!” kata ibu istriku yang kutemui di dalam ruang ATM
Ibu dan adik iparku tidak diijinkan rumah sakit menenami istriku karena bukan suaminya, termasuk juga dalam urusan tanda-tangan dalam surat pernyataan kesanggupan. Setelah membayar taksi, aku langsung mengambil langkah cepat menuju ruang persalinan.
“ Bapak suaminya?” tanya suster
“ Iya betul mba!” kataku singkat
“ Anaknya sudah lahir!”
“ Istri saya baik-baik saja mba?”
“ Silahkan Bapak lihat!”
Kuhampiri istriku yang terbaring di tempat tidur ruang persalinan.
“ Maafin mas ya de! Ga bisa nememin!” sambil mencium kening dan ubun-ubun kepalanya
“ iya, gapapa! Dedenya dah lahir mas!” senyum sambil menitikkan air mata
“ Iya terimakasih sayang!”
Waktu menunjukan pukul 1 dini hari. Aku terlambat beberapa menit saat istriku melahirkan puteri kami. Suster kemudian mempersilahkanku untuk mengadzankan puteriku.
“ Allahuakbar....Allahuakbar....!” suaraku berat bergetar
Bahagia bercampur haru melihat puteri kami terlahir ke dunia dengan selamat setelah melalui pengorbanan fisik dan perasaan yang melelahkan. Takjub melihat kekuasaan Allah yang menciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna.
“ Bapak, berat bayinya 1, 9 kilogram!” kata suster
Aku tidak bisa menjawab apa-apa
“ Dedenya mengalami asfiksia [13] jadi belum menangis!”
Anak-anak BBLR ataupun prematur mengalami hal ini karena paru-parunya belum berkembang sempurna. Karenanya, biasanya dokter kandungan akan menyuntikan deksametason melalui ibu, tujuannya untuk pematangan paru-paru bayi di dalam kandungan. Kondisi paru-paru menjadi kekhawatiran terbesar umumnya dokter kandungan, karena bila paru-paru bayi masih jauh berkembang dari sempurna, bisa mengancam keselamatan bayi akibat kesulitan bernafas. Gangguan bernafas ini juga mengakibatkan bayi tidak menangis ketika dilahirkan, dan sulit melakukan IMD (inisiasi menyusu dini)[14]. Anak-anak BBLR ataupun prematur biasanya juga berkulit keriput seperti layaknya orang tua karena berat badannya masih jauh dibawah normal. Namun seiring pertambahan berat badannya, kulitnya akan kembali normal seperti bayi-bayi yang lain.
“ Pak, kami meminta izin dedenya untuk dibawa ke ruang NICU, dan diobservasi oleh tim dokter!” kata seorang suster
“ Tapi tidak apa-apa kan, sus?!”
“ Tidak apa-apa, Pak! dedenya hanya asfiksia, jadi kita beri pertolongan!”
Aku diminta untuk menyelesaikan administrasi, sementara bunda dibawa ke ruang rawat inap.
“ Pak uang mukanya Lima Juta Rupiah!” kata seorang petugas administrasi perempuan
“ Maaf, mba, tadi saya kesulitan menarik uang dari ATM, ada gangguan jaringan!”
“ Iya, pak, kami tunggu! Nanti kalau sampai jam 7 pagi belum diserahkan uang mukanya, mohon maaf bapak cari obat sendiri di luar! Kami hanya merawat ibu dan bayinya!” Jelas si petugas
Aku cukup dibuat kaget melihat biaya uang muka yang harus dikeluarkan, Lima Juta rupiah. Si petugas menjelaskan, uang itu untuk deposit biaya ibu dan bayi. Rinciannya Satu Juta Tiga Ratus Lima Puluh Ribu rupiah untuk si ibu, sisanya untuk si bayi. Suster juga meminta pernyataan kesanggupan karena biaya perawatan bayi BBLR tinggi, Satu Juta Lima Ratus Ribu rupiah per hari bila kondisinya perlu penanganan lebih. Meski si petugas berusaha ramah dalam mengingatkan tentang keharusan membayar uang muka segera, namun terkesan menekan dan mengancam. Mungkin ia hanya menjalankan tugasnya, mengikuti SOP sebuah rumah sakit swasta. Sudah menjadi takdir akhirnya istriku harus menjalani persalinan di rumah sakit swasta di Depok, tempat kami rutin memeriksa kandungan. Bukan di rumah sakit di Slipi, dan bukan pula di rumah sakit di Pasar Rebo.
***
Adzan shubuh pun berkumandang. Bunda masih tertidur pulas di tempat tidurnya. Selepas Shalat Shubuh, rasa kantuk mulai menerpa. Aku memang tidak tidur semalaman sejak dini hari tadi. Namun entah dalam selimut lelah, hati ini terdorong ingin membaca surat Ar-Rahman.
“ (Rabb) Yang Maha Pemurah...Yang Menurunkan Al-Quran...Yang Menciptakan Manusia...”
Aku manfaatkan waktu ini untuk berdoa kepada Allah. Hanya doa yang membuatkan hati ini kuat dalam menyikapi kesusahan dan kesulitan. Aku berdoa dengan bertawasul[15] lewat perantaraan sebuah amal kebaikan yang dalam pengetahuanku yang lemah, semata karena Allah. Tidak mengapa kita pamrih kepada Allah atas amal-amal kita dengan harapan doa kita diajabah. Inilah tawasul yang diperbolehkan agama[16]. Bukan mendatangi makam, kuburan ataupun tempat-tempat yang dianggap keramat yang justru merusak tauhid dan menyuburkan syirik.
Bunda terbangun bersamaan datangnya sarapan pagi yang diantar seorang petugas pelayan rumah sakit. Aku menemani istriku di kamar ruang rawat inap, sambil menyuapi istriku sarapan pagi yang terlihat masih segar dan masih hangat.
“ Mas, ikut makan aja bareng!” ajak istriku
“ Gampanglah, entar cari di luar! Ade aja makan dulu!”
Mata mengantuk, perut lapar, harus kutahan dulu sampai bapak-ibu istriku, atau orang tuaku datang. Sambil sarapan, bunda bercerita tentang kejadian di ruang persalinan dini hari tadi.
Dokter kandungan istriku datang ke ruangan persalinan sesaat setelah istriku melahirkan dengan tim bidan rumah sakit. Istriku memang melahirkan begitu cepat hingga dokter tidak bisa tiba pada waktunya di rumah sakit. Ketika tiba di rumah sakit, istriku memang sudah “bukaan” 7, dan hanya dalam waktu 15 menit sejak tiba di rumah sakit, istriku akhirnya melahirkan. Bukan saesar seperti yang ada dalam bayangan selama ini, melainkan normal. Saat melakukan percakapan telepon dengan bidan dalam perjalanan ke rumah sakit, dokter juga sempat terheran-heran dengan perkataan bidan bahwa kepalanya ada di jalan keluar. Bidan itu ternyata memang salah memprediksi karena bukan kepala yang ditarik keluar, melainkan pantat.
“ Duh Ibu...kasian kan dedenya lahirnya jadi sulit seperti ini?” kata dokter yang tiba sesaat setelah istriku lahir
“ Iya dok, semuanya diluar rencana!” jawab istriku
“ Makanya saya menawarkan mengambil tindakan segera untuk mengantisipasi si dede melahirkan traumatis!”
Istriku kemudian menceritakan bahwa kami sudah ke rumah sakit di Pasar Rebo untuk meminta tindakan, namun ditolak, cuma diperiksa dan dikatakan persalinannya masih sekitar sebulan lagi.
“ Ini yang saya tidak suka kalau merujuk-rujuk! Apalagi kalo ke rumah sakit pemerintah!” tegas dokter.
Istriku mengatakan ia merasakan kecemasan dan kepanikan luar biasa di ruang persalinan. Apalagi, semua itu dilaluinya sendirian, tanpa ada suami dan anggota keluarganya mendampingi. Pengalaman inilah yang kemudian memunculkan dampak traumatis yang luar biasa di kemudian hari.
(Bersambung)
[10] Artinya: Cukuplah Allah, tiada Ilah selain dia, dan kepada-Nya kami bertawakal, dan Dialah Rabb yang Maha Agung
[11] Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)
[12] Artinya: Tidak ada ilah(tuhan) kecuali Engkau. Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Doa ini dikenal sebagai doanya Nabi Yunus AS. Beliau Alaihisalam tidak sabar dan kesal dengan perlakukan kaumnya. Ia pergi meninggalkan kaumnya menuju tepi laut. Allah mengujinya hingga membuat Nabi Yunus menjadi orang yang dilemparkan ke laut setelah dilakukan undian di atas kapal. Nabi Yunus akhirnya ditelan ikan besar dan menelan Nabi Yunus. Ditengah kesendirian dan ketidak berdayaan Nabi Yunus memanjatkan doa ini. Quran menyitirnya dalam Surat Al Anbiyaa: 87-88.
[13] Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas scr spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999)
[14] Proses menyusui bayi segera setelah lahir, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri. Tujuannya untuk membantu keberlangsungan pemberian ASI eklusif.
[15] Berdoa atau memohon pertolongan ALLAH lewat perantaraan sesuatu
[16] Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma, dia berkata : “aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda : ’ada tiga orang yang hidup sebelum kalian berangkat (ke suatu tempat) hingga mereka terpaksa harus menginap di sebuah gua, lalu memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari arah gunung lantas menutup rongga gua tersebut. Lalu mereka berkata: ’sesungguhnya yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini hanyalah dengan (cara) berdoa kepada Allah melalui perbuatan-perbuatan yang shalih’ (maksudnya: mereka memohon kepada Allah dengan menyebutkan perbuatan yang dianggap paling ikhlas diantara yang mereka lakukan-red). Salah seorang diantara mereka berkata:’Ya Allah! aku dulu mempunyai kedua orang tua yang sudah renta dan aku tidak berani memberikan jatah minum mereka kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku).
Pada suatu hari, aku mencari sesuatu di tempat yang jauh dan sepulang dari itu aku mendapatkan keduanya telah tertidur, lantas aku memeras susu seukuran jatah minum keduanya, namun akupun mendapatkan keduanya tengah tertidur. Meskipun begitu, aku tidak berani memberikan jatah minum mereka tersebut kepada keluargaku (isteri dan anak) dan harta milikku (budak dan pembantuku). Akhirnya, aku tetap menunggu (kapan) keduanya bangun -sementara wadahnya (tempat minuman) masih berada ditanganku- hingga fajar menyingsing. Barulah Keduanyapun bangun, lalu meminum jatah untuk mereka. ‘Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut sedikit merenggang namun mereka tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .
Nabi bersabda lagi: ‘yang lainnya (orang kedua) berkata: ‘ya Allah! aku dulu mempunyai sepupu perempuan (anak perempuan paman). Dia termasuk orang yang amat aku kasihi, pernah aku menggodanya untuk berzina denganku tetapi dia menolak ajakanku hingga pada suatu tahun, dia mengalami masa paceklik, lalu mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar dengan syarat dia membiarkan apa yang terjadi antaraku dan dirinya; diapun setuju hingga ketika aku sudah menaklukkannya, dia berkata: ’tidak halal bagimu mencopot cincin ini kecuali dengan haknya’. Aku merasa tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya, aku berpaling darinya (tidak mempedulikannya lagi-red) padahal dia adalah orang yang paling aku kasihi. Aku juga, telah membiarkan (tidak mempermasalahkan lagi) emas yang telah kuberikan kepadanya. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Lalu batu tersebut merenggang lagi namun mereka tetap tidak dapat keluar (karena masih sempit-red)’ .
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda lagi: ‘kemudian orang ketigapun berkata: ‘Ya Allah! aku telah mengupah beberapa orang upahan, lalu aku berikan upah mereka, kecuali seorang lagi yang tidak mengambil haknya dan pergi (begitu saja). Kemudian upahnya tersebut, aku investasikan sehingga menghasilkan harta yang banyak. Selang beberapa waktu, diapun datang sembari berkata: “wahai ‘Abdullah! Berikan upahku!. Aku menjawab: ’onta, sapi, kambing dan budak; semua yang engkau lihat itu adalah upahmu’. Dia berkata : ’wahai ‘Abdullah! jangan mengejekku!’. Aku menjawab: “sungguh, aku tidak mengejekmu’. Lalu dia mengambil semuanya dan memboyongnya sehingga tidak menyisakan sesuatupun. Ya Allah! jika apa yang telah kulakukan tersebut semata-mata mengharap wajahMu, maka renggangkanlah rongga gua ini dari batu besar yang menutup tempat kami berada. Batu besar tersebut merenggang lagi sehingga merekapun dapat keluar untuk melanjutkan perjalanan’. (Muttafaqun ‘alaih)

ufff. . bukan dokter yg menjalankan kode etiknya dgn baik jika memojokkan pasien dan menyalahkan hasil diagnosis dokter lain secara frontal :-(
BalasHapus