Tabaraka 2025: Belajar dari Keramahan Warga dan Pesona Alam Kampung Curug


Angin sejuk langsung membelai kami begitu tiba di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Bogor. Selama tiga hari dua malam, kami mengikuti program Tabaraka-Tafakur Alam, Belajar dan Berkarya. Sebuah program SMP Islam Ramah Anak yang dirancang agar anak-anak dapat belajar menyelami kehidupan masyarakat desa, dan beraktifitas layaknya warga desa, dan beramal menebar manfaat.


Jejak kami di Kampung Curug diawali dengan berbagi paket bingkisan sembako sebanyak 130 paket kepada warga yang membutuhkan. Dari awal penggalangan donasi, pengemasan hingga pembagian paket, semuanya anak-anak yang mengambil peran.  "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia"  pesan Rasul mulia  tertanam dalam benak.

Kami juga berkesempatan mengunjungi pengajian anak-anak dan sekolah PAUD setempat. Senyum renyah, tawa lepas, dan salam jari-jemari mungil menyambut hangat kehadiran kami. Bercengkrama dengan anak-anak kecil, berbagi puluhan paket alat tulis, hingga belajar mengajar di PAUD, menjadi pengalaman berarti.



Para siswa ditugaskan untuk membersamai kegiatan orangtua asuh, mulai dari membantu pekerjaan rumah, ikut bekerja bersama warga hingga membersihkan mushola dan masjid setempat. Salah satu pengalaman baru bagi beberapa siswa adalah saat memupuk pohon jeruk limo dan cengkeh di kebun milik Pak Ence, warga yang jadi orangtua asuh.

Zaki, siswa kelas 9 Syarif Hidayatullah, baru pertama kali belajar memupuk pohon jeruk limo. Saat ia mencungkil tanah dengan ranting, cacing tanah menggeliat, seperti menyapa anak-anak kota yang jarang bermain di alam desa. Temannya, Rifat, juga belajar membuat formasi pupuk melingkari pohon jeruk limo, berbeda jauh dengan formasi game yang biasa ia mainkan.

Teman-teman lainnya juga mendapat pengalaman baru; mengarit tanaman liar, mencabut dan menanam batang singkong, hingga memberi makan kambing di kandang. Telapak-telapak halus itu harus menjamah sesatu yang kasar ataupun kotor. Tentunya tidak masalah, asalkan yang kasar dan kotor itu bukanlah ucapan dan perbuatan.


Pengalaman berdagang pun mereka dapatkan melalui bazar amal pakaian dan barang layak pakai. Harga barang-barang dibanderol mulai dari seribu sampai sepuluh ribu rupiah. Warga dari berbagai usia memadati bazar amal, berburu baju, celana, gamis, tas hingga mainan anak. Dengan percaya diri dan suara lantang, serta niat berbuat baik, Nayla dan Naura, siswi kelas 9 Ummu Sulaim dan Laksamana Malahayati, berusaha menjajakan dagangan sampai laris terjual.  Dari bazar amal Tabaraka, terkumpul lebih dari satu juta rupiah. Ditambah donasi tambahan lainnya, total dana mendapai dua juta rupiah, plus 68 mushaf Qur'an, semuanya disumbangkan untuk kegiatan dakwah di Kampung Curug.


Tak lengkap rasanya menjalani Tabaraka di Kampung Curug tanpa trekking ke Gunung Ciung, destinasi favorit para penjelajah pemula, ataupun mereka yang mau berkemah di Lembah Kaliandara.  Menjejaki jalan setapak tanah merah berbatu yang menanjak dan landai, sambil  memandang hamparan hijau perbukitan, dan menyusuri arus jernih sungai Lembah Kaliandra menjadi tafakur alam menyenangkan. Lelah pun terbayar dengan alam indah karunia Allah yang memanjakan mata. Tabarakallah.


Alhamdulillah, sebagian besar siswa mampu mencapai Puncak Ciung. Namun beberapa siswi juga tak mau kalah menjelajah hingga sampai ke puncak Gunung Ciung dengan ketinggian 950 mdpl. Dzikra, Shafa, Nabila, Telaga dan Jasmine diantara yang bersemangat menggapai puncak Ciung. Bahkan, Dzikra tampak tak letih, terus berpacu seperti punya tenaga kuda. Mungkin, jika masih ada puncak lebih tinggi di Ciung, siswi jebolan pesantren ini masih sanggup terus menanjak. Bagi sebagian besar anak, trekking di alam ini menjadi pengalaman perdana. Barangkali selama berbulan-bulan, cuma sedikit waktu mereka berjalan jauh. Paling jauh kaki melangkah berputar-putar di CCM, Margo City dan pusat perbelanjaan lainnya.


Ketua RW Kampung Curug, Pak Ugan, berharap anak-anak tidak kapok dan membawa pulang oleh-oleh pengalaman berkesan. Keramahan orangtua asuh dan canda tawa adik-adik menyisakan kenangan. Ada senyum bersua, ada tangis berpisah. Sejauh mata memandang, sejuta rasa tersimpan. Tabaraka 2025 Enigma menjadi pengalaman tak terlupa. Tabarakallah. (dan)

 

 

 

 


Komentar

Postingan Populer