Turki, Di Balik Penggulingan Assad


Aktor internasonal yg menjadi kunci dalam penggulingan Bashar Al Assad adalah Turki. Pernah saya sampaikan Turki dibawah Erdogan ini adalah pemain vital politik regional, bahkan global. Turki tak hanya berfikir soal kedaulatan negaranya dan national interest-nya.Tapi juga berfikir soal nasib Palestina dan dunia islam. 

Bisa dibayangkan, Turki yg berjabat tangan erat dengan Rusia untuk kepentingan balancing of power politik global, dan upaya bargaining politik dengan Amerika. Tapi di sisi lain, Turki juga anggota NATO yang menjadikan Rusia ancaman nomor satu. Sama halnya dalam kasus Palestina, di satu sisi Turki lantang menggalang dukungan untuk Palestina, dan negara yg melindungi Hamas. Tapi sisi lain, Turki menjadi negara yg tetap berhubungan diplomatik dengan Israel. Sepintas, seperti bermain dua kaki, tapi justru inilah strategi politik Turki.

Dalam kasus Suriah, sejak revolusi Suriah meletus, Turki tegas berada di pihak oposisi. Bahkan, Turki semakin intensif terlibat dalam operasi militer di Suriah Utara. Bukan Amerika dan sekutu baratnya, bukan pula negara-negara Arab yang berperan mendukung oposisi Suriah. Tapi justru Ankara. Bahkan, Turki harus menghadapi mitra pentingnya; Rusia dan Iran yang membekingi Bashar Al Assad. 

Dalam operasi di Suriah, Amerika dan antek barat serta negara Arab justru mengandalkan Turki dalam soal operasi militer dan diplomasi politik. 

Tergulingnya Bashar tak lepas dari permainan politik Turki. Orang kebanyakan hanya melihat keberhasilan ini karena pergerakan HTS (Hayat Tahrir Al Syam) yang mampu merebut satu demi satu kota di Suriah dalam waktu kurang dari sepekan. Padahal, perang dan diplomasi bagai dua keping mata uang. Ada diplomasi politik yang berperan besar. 

Turki memang berupaya membangun buffer zone (zona penyangga) di Suriah Utara, atau perbatasan Turki Selatan. Tujuannya jelas membendung pergerakan gerakan separatis Kurdi (PKK) yang berambisi membangun negara otomom kurdi dan menangkal pengaruh NIIS (ISIS) di wilayah Suriah. Isu terakhir juga menjadi perhatian Amerika sehingga Washington menggunakan Kurdi sebagai proxy hadapi NIIS di Timur Laut Suriah. 

Tapi lebih jauh lagi, Ankara melihat jatuhnya Rezim Assad dapat membawa harapan baru untuk stabilitas kawasan, dan menjadikan Damaskus sebagai sekutu baru Ankara dalam membendung Kurdi dan Zionis.

Setahun belakangan menjadi waktu yang tepat bagi Ankara untuk menggulingkan Assad. Pertama, Rusia terpecah kosentrasinya menghadapi Ukraina. Kedua, Iran dan Hizbullah juga sibuk menangkal operasi militer zionis di Lebanon Selatan. Ketiga, faktor yg kalah penting, demoralisasi militer Suriah akibat kehilangan dukungan dan faktor ekonomi. 

Selain mendukung penuh oposisi Suriah di lapangan, Turki juga bernegosiasi dengan Rusia dan Iran sebagai sekutu utama Bashar Al Assad. Ankara berupaya meyakinkan Moskow dan Teheran, tanpa Assad pun, baik Rusia dan Iran tak kehilangan kepentingannya di Suriah. Lobi-lobi politik intensif dilancarkan Ankara ke Moskow dan Teheran. Turki menjamin HTS bisa "dijinakan", tak mengganggu kepentingan Moskow di Suriah. Apalagi Turki punya magnet lainnya, yaitu upaya bergabung dengan BRIC yang digawangi Rusia dan Cina. Sesuatu yang dibaca Moskow, akan lebih mendekatkan Turki ke blok Rusia dan Cina, ketimbang ke Uni Eropa yang masih bertepuk sebelah tangan.

Diplomasi Turki mampu merayu Rusia untuk menarik diri dari Suriah, dan mundur secara terhormat. Maka disusunlah rencana pengunduran diri Assad (bahasa diplomatis Rusia), dan operasi penyelamatan Bashar atas nama kemanusiaan. Dalam pergerakan milisi HTS terlihat tak ada upaya Moskow menggunakan kekuatan udaranya untuk menangkal laju oposisi seperti biasanya. 

Turki juga sudah "mengatur" oposisi Suriah tak mengganggu kepentingan Rusia di Suriah, seperti pangkalan militer Rusia di Tartus dan Khmeimim. Turki juga memberikan garansi ke Iran bahwa Suriah pasca Bashar juga tetap akan menjadi poros anti Zionis. Turki berhasil meyakinkan Rusia dan Iran bahwa Rezim Assad sudah tidak dapat dipertahankan. Tanpa Assad pun Rusia dan Iran tidak akan kehilangan kepentingannya. Jatuhnya Allepo tanpa perlawanan, diikuti Homs, dan kota lainnya, seperti sebuah lampu hijau bagi oposisi untuk merebut Damaskus, dan menggulingkan Assad yg sudah lebih dahulu "dievakuasi" oleh Moskow.

Lebih jauh lagi, skenario Ankara juga yang membuat HTS lebih humanis dan moderat, dan mengatur transisi kekuasaan secara apik serta melindungi perdana menteri Suriah dan menteri-menteri rezim Assad. Turki juga meyakinkan Washington bahwa "The Next Suriah" akan tetap dalam poros melawan terorisme NIIS.

Persoalannya adalah bagaimana nanti Turki mampu "menjaga" HTS, sekaligus meredam kemungkinan konflik antar faksi oposisi, termasuk diantaranya oposisi utama yang didukung Turki, Dewan Nasional Suriah (persatuan faksi-faksi oposisi, termasuk di dalamnya ikhwanul muslimin). Tantangan Turki ke depan adalah bagaimana Ankara mampu menetralisasi oposisi yang berkuasa dari kepentingan Barat, Rusia dan iran, dan menjaga kepentingan Turki di Suriah Utara, dan di sisi lain, rezim baru nantinya berkemampuan membendung Zionis yang bermanuver di Dataran Tinggi Golan, dan menjadi bidak Turki untuk bargaining politik dengan Washington dan Tel Aviv terkait Palestina. 




Komentar

Postingan Populer