Kuburan Karir Didi

 


 


 

(Manchester, Inggris) 

”Of course, it was an easy match. I was able to score 3 goals!" Didi menjawab yakin pertanyaan wartawan. Ia didaulat menjadi Man of The Match dalam babak perempat final kompetisi kasta tertinggi Eropa, UEFA Champions League. Berkat 3 golnya ke gawang Dortmund, City mampu melangkah ke semi final UCL. Sukses ini adalah impiannya sejak ia masih belia, menimba ilmu sepakbola di lapangan banteng, Jakarta.

Media-media Eropa memberitakan besar-besar,  Indonesian’s Star, rocked Europe with his three goals. City advanced to the semi-finals of the UCL. Dunia dalam genggaman. Harta, popularitas, dan kemewahan impian anak manusia.

***

Kesuksesan yang direngkuh Junaedi, nama lengkapnya, memang tak semudah membalikan telapak tangan. Ia memang ulet, rajin, disiplin dan religius. Karir professionalnya dimulai sejak ia dikontrak klub Jepang, Yokohama Marinos, 8 tahun lalu. Penampilan cemerlangnya bersama timnas Indonesia U-20 di Piala Dunia Yunior di Jepang, memikat Yokohama meminang si anak kampung pinggiran Kota Depok.

Jalannya berliku. Bersama Yokohama Marinos, Didi mampu menorehkan tinta emas prestasi klub dan individu. Lima tahun berkarir di negeri matahari terbit, ia dipinang klub asal Skotlandia, Celtic. Tiga puluh lima gol yang ditorehkan selama 2 musim di Celtic, mencuri perhatian raksasa Liga Premier Inggris, Manchester City.

Sejak remaja, Junaedi memang dikenal cerdas dan ulet. Selain berprestasi di sekolah,  Didi dikenal anak yang baik. Kalau tidak ada di rumah, ia dipastikan bermain di lapangan atau masjid. Kesholehannya terbawa ke lapangan ketika awal menapak karir profesional. Doa sebelum memulai pertandingan, sujud usai mencetak gol, dan ungkapan syukur memuji Tuhan dalam setiap sesi konfrensi pres seusai laga.

Tiga tahun menjejakan langkah di Eropa, ia masih punya mimpi mengikuti jejak bintang top asal Senegal, menjadi pemain yang dermawan, memberi sumbangsih bagi warga-warga miskin atau membangun masjid-masjid di negerinya.

Jauh panggang dari api, jerat-jerat dunia mulai membutakan hati. Hidupnya erat dengan keglamoran. Mobil-mobil mewah seperti Lamborghini dan Ferrari, busana bermerk Louis Vitton, Arloji Tag Heuer menjadi penghias keseharian. Alasannya, tuntutan pergaulan di kalangan selebritis lapangan hijau. Kemewahan menunjukan kelas sosial.

Tak ada lagi uang yang mengalir ke lembaga-lembaga sosial, masjid-masjid seperti kebiasaannya dulu, bersedekah di waktu shubuh. Bahkan, ke orangtua dan keluarga di rumah pun, hanya 5-10 juta rupiah per bulan. Pastinya tak cukup untuk biaya hidup, biaya berobat orang tua dan sekolah anak. Padahal gajinya senilai 400.000 Poundsterling atau setara 8 milyar rupiah per bulan. Uangnya sudah lebih banyak mengalir untuk biaya lifestyle, barang-barang mewah, dan kesenangan dunia yang memanjakan lainnya. Sirna sudah kesederhanaan.

Bahkan, ia benar-benar sudah terbutakan dunia. Tak ada rasa malu lagi ketika meminum wine di tengah publik, bergandengan dengan perempuan bule bukan mahram. Masjid di Kota Manchester pun sudah tak lagi dipijak seperti awal kedatangnnya di benua biru.

Sikapnya pun berubah jumawa. Tak ada lagi kerendahan hati. Setiap kali sesi konferensi pers, Didi tak pernah sekalipun bersyukur memuji Tuhan. Ia mengklaim prestasi di lapangan, murni karena kepiawaainnya semata. Ia lupa dengan munajat ayah dan ibu yang senantiasa mendoakan siang malam tak kenal pamrih. Tak sadar mengalir doa Maryam, istrinya, di balik sukses yang digapai. Istri Didi dan putri semata wayangnya memang memilih tak ikut ke Eropa karena tak mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan di Skotlandia dan Inggris.

Dulu, ketika masih bermain di Jepang, Istri dan putrinya masih menemani. Mereka masih bisa beradaptasi. Namun di Glasgow, hanya hitungan bulan, istri dan anaknya pamit meminta izin pulang kembali ke Indonesia. Benturan budaya dan pergaulan lingkungan menjadi persoalan.

***

Laga Derby Manchester dihelat di Etihad Stadium. Laga rivalitas klub sekota penuh gengsi.  Didi melangkah percaya diri memasuki lapangan. Dari tribun, suara sorak sorai supporter City bergemuruh. “Didi, didi, didi, We Love You….!” Teriakan beberapa fans wanita City. Ia sudah menjadi pemain yang digilai fans. Tanda tangannya bernilai spesial. Fans harus rela antre berburu untuk berswafoto.

Laga berlangsung ketat. Di menit ke-75, City harus kebobolan. Raut wajah fans kecewa. Dua menit jelang laga usai, sebuah peluang emas didapat City. Sebuah umpan silang dari sisi kiri dilepaskan. Didi yang mendapat peluang, mencoba menggapai dengan sundulan. Namun, sebuah body touch bek United, membuatnya terplanting keras. Ia meraung kesakitan di angkel hingga harus ditandu keluar lapangan. “Damn It!” keluhnya dibalik tandu yang beranjak meninggalkan lapangan.

***

Dua hari berselang, Didi masih berbaring di tempat tidur ruang rawat RS Manchester. Ia sudah lupa dengan kewajiban shalat yang tak gugur karena alasan sakit. Bahkan, sebait doa pun tak teuntai dari lisan. Ia lebih percaya kepada tangan-tangan medis di RS.

Tim dokter visit memberi kabar. Cedera angkelnya sangat parah. Ia divonis tak mampu lagi merumput di lapangan hijau. Pemulihan operasi secanggih apapun tak bakal mengembalikan kondisi angkelnya. Tim dokter menyarankan ia harus gantung sepatu lebih awal. Didi terperanjat. Ambisi karir yang dirintis sejak muda, lenyap seketika di usia emas pesepakbola, 27 tahun. Ia harus melupakan kegilaan fans, pergaulan selebritis, dan kenikmatan duniawi lainnya.  Dan musibah terbesar yang tak disadari, ia telah kehilangan keimanan. Didi telah berubah menjadi seorang agnostik. 

(the end)

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer