Tiga Bocil 50 : "Musang Berbulu Ayam"
Panas terik menyengat kulit. Hembus angin membelai tengkuk. Hamdan masih asyik menguyah tebu berwarna gelap keunguan. Ampasnya masih menempel di sudut bibir.
“ Manis,
Yo! manis!” Ujar Hamdan kepada temannya yang ulet mencari cara mematahkan tebu
yang tertancap kuat.
Lepas dzuhur, mereka mampir ke kebun Pak Ali. Kebunnya tak
begitu luas, hanya 150 meter persegi. Tapi, kebun Pak Ali punya koleksi pohon lumayan
lengkap. Dari pepaya, pisang, jambu, singkong, tebu sampai cabe.
Namun yang paling menyita perhatian Hamdan adalah seekor
burung ayam-ayaman. Burung pemakan serangga dan biji-bijian ini sudah sering
main ke kebun Pak Ali.
“Jepret, Dan! Sikat…!” Seru Andri
bersemangat.
“Aduh, meleset….! Keluh Hamdan sambil menggaruk kepalanya.
“Sini gue yang coba deh!” Seru Iyo dengan sigap melontarkan
batu dari ketapelnya. "Makan nih...!"
Bidikan Iyo juga masih meleset. Burung ayam-ayaman malah
terbang menjauh. Raut wajah Iyo kesal bercampur kecewa. Tangannya mengusap
keringat yang menguap di dahi dan hidungnya yang pesek.
Bidikan mereka tak kunjung tepat sasaran. Biasanya, memang cuma
senapan angin Bang Rudy yang mampu melumpuhkan burung ayam-ayaman. Sayangnya,
mimis (peluru senapan angin) seringkali melukai si burung sampai terkapar.
Sedangkan Hamdan dan teman-teman ingin menangkap burung itu hidup-hidup untuk
dipelihara.
***
"Nyok kite ke Mushola!" Ajak Hamdan.
Mushola kecil itu hanya berjarak 50 meter dari kebun Pak
Ali. Letak mushola ada di tengah-tengah pesawahan. Di belakang mushola itu, ada
sebuah kolam seluas 16 meter persegi. Walau ukurannya kecil, tapi banyak
koleksi ikannya. Mungkin marbot mushola menaruh ikan-ikan dari rawa di kolam
agar orang-orang datang berkunjung.
Hamdan dan teman-teman tak pernah membawa pancingan. Mereka mengandalkan
kaleng bekas yang ditaruh di sisi dasar kolam. Harapannya ikan betok
terperangkap saat bersembunyi.
"Sial...! Gak ada Yo!" Sahut Hamdan menyelupkan
tangannya ke kaleng.
"Apes lagi…! Taro aje lagi dan!" Seru Andri
"Udah kite maen tanah liat aje" Ajak Iyo menghibur
dua temannya.
Di pinggiran kolam memang banyak lempung (tanah liat). Anak-anak
seusianya suka mengambil lempung untuk dibuat asbak ataupun patung mainan.
"Cil, lo mau betok?!" Sapa seorang lelaki paruh
baya yang sudah lama memancing.
"Beneran om dikasih?!” Iyo ragu.
"Lo ditawarin malah nanye! Ya udeh kalo gak mao!"
Lelaki itu membereskan peralatan pancingnya.
"Boleh om!" Sambung Hamdan.
"Gue dapet banyak ini hari! Gue mo bagi-bagi
rejeki!" Lelaki itu terkekeh, tiga gigi ompongnya sulit bersembunyi. Dua
betok berukuran kecil diberikan ke Hamdan. Tiga anak ingusan itu menatap ikan
berkulit keras dan berkepala besar itu.
Betok adalah ikan air tawar yang hidup di rawa-rawa dan
persawahan. Ikan bernama latin anabas testudineus
ini dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan karena mengandung Omega-3. Betok
banyak tersebar di perairan tropis Asia.
***
"Kite pulang atau lanjut nih? Sekarang dah jam setengah
tigaan!" Hamdan menancapkan ranting di atas tanah, membuat jam matahari.
"Lanjut aje deh! Nanggung dah kotor-kotoran!"
Timpal Andri.
Di atas kubah mushola, banyak burung-burung kecil. Burung-burung
itu bersendau gurau, saling mematuk kepala, seperti meledek Hamdan yang bimbang
antara memilih pulang atau terus bermain.
Burung berjenis pipit ini dikenal luas dengan nama
burung gereja. Konon, mereka dikenal suka bersembunyi di loteng dan langit-langit
Gereja. Burung ini paling sering dijumpai di lingkungan tempat tinggal.
Pedagang kecil sering menjualnya di sekitar sekolah dasar, menarik perhatian
anak-anak yang ingin memelihara burung, tapi cuma punya bekal uang jajan
ratusan rupiah.
***
"Kite ke rawa nyok! Maren gue naro jebakan! Ajak Iyo
meyakinkan dua temannya.
" Nyok...! Jawab Hamdan mantap
" Iye, gue juga naro jebakan dua!" Andri mengusap
ingusnya yang hampir jatuh ke bibir.
Tiga sekawan ini langsung memanjat kayu pembatas. Di
sekeliling rawa ini memang sudah dipatok-patok pembatas. Kabarnya, sebuah
komplek hunian baru akan dibangun, menampung warga pendatang dari luar Depok.
Dua jebakan Andri membuahkan hasil. Satu jebakan
berhasil menjaring ikan sepat. Satu lainnya menjaring kepiting air tawar atau
yuyu. Sedangkan Iyo harus menahan kecewa. Jebakannya hanya menjerat katak
sawah.
“Sialan, kodok buduk!” Ujar Iyo geram. Dilemparnya katak sawah itu jauh-jauh.
“Banyak dosa, Yo! Makenye solat jangan bolong-bolong! Hamdan mengolok-olok.
“Masih ada kesempatan Yo!” Hibur Hamdan menepuk bahu temannya yang duduk
terpaku di pinggir sungai kecil.
Sungai kecil ini ada di pinggiran rawa-rawa. Sunyi sepi. Tak ada
celotehan manusia. Yang ada hanya kecebong yang meliuk-liuk di air, menikmati
masa anak-anak sebelum menjadi katak dewasa. Kalau sudah dewasa tak sebebas
masa muda. Punya banyak tanggung-jawab. Mengurus pasangan dan anak-anak.
Kemampuan hidup di dua alam (amfibi) membuat
sang katak dewasa setidaknya siap memikul tanggungjawab, melebihi para junior
yang hanya berenang di air.
“Yo, katak jadi inspirasi! gaya renangnye dipake orang!” Andri membuka
tangannya seolah meniru gaya katak. Andri memang paling piawai berenang.
Ayahnya sering mengajak ke kolam renang di daerah Beji setiap akhir pekan.
“Malah ade yang namanye pasukan katak! Pake mobil amphibi bisa di aer ame di darat!”
Tambah Hamdan yang berlagak tahu dunia militer.
“Iye deh ape kate lo aje! Gue gak jelekin kodok buduk, cuma kesel aje dapet
beginian!” Iyo melempar batu ke tengah-tengah rawa. “Nyok lanjut! Bungkusin tuh
sepat ma yuyu!”
Hamdan dan Andri mengikuti temannya dari belakang. Mereka
menuju rawa yang banyak ditumbuhi rumput tinggi. Kedalamannya mulai dari
setinggi lutut sampai dada orang dewasa. Tapi mereka tak pernah khawatir. Andri
sering berenang di kolam renang Tirta Rio. Hamdan dan Iyo dapet ilmu ngobak
(berenang) di Sungai Ciliwung. Bekal itu sudah cukup untuk bergerak di air dan
menjaga agar tak tenggelam.
***
Baru dua-tiga langkah, ayunan kaki sudah mulai terasa berat.
Bau air rawa menusuk-nusuk hidung. Hanya Andri yang kebal. Hidungnya penuh
ingus kental dan upil yang mulai mengering.
"HWAAAARGGGH!" Sesosok tubuh kekar keluar
dari dalam air. Badannya penuh sampah rawa, menutupi kulitnya yang coklat gelap.
Sebuah tulisan tato di punggung tangan tampak samar. Tiba-tiba matanya melotot.
Hamdan terperanjat kaget. Iyo dan Andri hampir terjengkang.
Mereka keheranan. Sosok itu layaknya Swamp
Thing dalam film serial TV yang muncul dari dalam rawa. Penasaran mereka sirna
setelah sosok yang mengagetkan itu tertawa terpingkal-pingkal.
Mereka bertiga sebenarnya tak takut setan-setanan. Tak ada imajinasi mahluk halus. Mereka jarang menonton film horror di televisi. Kalaupun sempat, biasanya tepat di bagian akhir film yang menampilkan sosok kiai yang membaca ayat kursi yang membakar si syetan. Film diakhiri dengan nasihat baik sebelum muncul tulisan TAMAT, menyudahi film akhir pekan yang jadi favorit pemirsa.
Tontonan film horror sering
berdampak buruk untuk pemirsanya, khususnya anak-anak. Usai nonton, bukannya
berani, justru malah makin penakut. Sampai-sampai tak berani tidur sendiri.
Mungkin syetan ikut menyusup lewat film, menghembuskan rasa takut. Orang dewasa
terkadang juga dimakan was-was. Mereka tak berani bangun tahajud karena takut
digoda syetan. Kabar burung berhembus, shalat malam banyak diganggu syetan. Padahal,
godaaannya justru rasa kantuk, bermanja selimut di kasur empuk.
Hamdan lebih khawatir orang jahat yang suka malak, minta
uang atau barang berharga korbannya.
Ternyata sosok lelaki berkulit gelap itu bukanlah mahluk
jadi-jadian. Hanya seorang anak muda yang sedang mencari ikan.
"Lo pade nyari apaan, Cil?" membersihkan kotoran yang
menempel di muka dan sekujur badannya.
"Maen sambil cari ikan, bang!" seru Hamdan
membuang ludah ke samping kiri. Tenggorokannya terasa kering karena belum minum
sejak dzuhur. "Abang ngapain?" balik bertanya.
"Ngapain aje bebas!" Menyeringai lalu melepehkan sesuatu dari
mulut, seperti membuang jigong dari gigi yang bolong.
"Maksud saya, boleh gak bang bagi ikannye?!" Hamdan tersenyum, menggaruk kepala.
"Iye bang!" Iyo dan Andri kompak.
"Dasar lo bocil, ngelunjak lu ye!"
Lelaki itu melirik ikan tangkapannya di korangnya.
" Lo punye berape duit?"
" Ya elah bang, saya cuma bawa duit cepek! Buat
beli ciki sama es mambo!"
" Bujug...! lo kire gue bocil dikasih cepek!" Anak
muda dengan tindikan di hidung itu tersenyum kecut. Tangannya merogoh seekor
ikan gabus berukuran sedang.
"Gabus doang bang...?" Rayu Iyo meliirik korang si
abang yang berusi gabus, belut dan sepat.
" Bener bener lo ye!" geleng-geleng kepala.
Sejurus kemudian tangannya merogoh seekor sepat.
" Udeh ye, tekor nih gue!"
" Ikhlas gak bang?! tanya Andri.
" Soal ikhlas cuma di ati! Manusia gak ade yang tau!
Orang yang ngerasa ikhlas aje belum tentu ikhlas!" Nadanya meninggi. "
Buruan ni ambil sebelum gue taro lagi!" Matanya melotot.
" Abang makasih ye bang! Abang baek banget dah!" Hamdan
mencairkan suasana, memuji si abang setinggi langit.
Hamdan senang bukan kepalang mendapat ikan gabus. Ikan gabus
adalah ikan predator yang memangsa cacing, serangga, katak, ikan-ikan
kecil hingga keong. Pastinya di rumah bakal jadi mainan baru Hamdan dan
teman-teman.
Ikan yang bagian kepalanya mirip ular ini, lebih akrab
di telinga para kolektor dengan istilah Channa
Snakehead. Seperti lele, ikan ini relatif mudah dipelihara. Nilai
ekonomisnya tinggi karena banyak dicari di pasaran. Tak heran harganya tinggi.
Gabus kaya kandungan protein, dan mengandung zat albumin yang diperlukan bagi
tubuh. Jurnal ilmiah menyebut ekstrak ikan gabus mampu mempercepat penyembuhan
luka. Karenanya banyak orang menyarankan mengkonsumsi ikan gabus setelah
operasi, termasuk bagi ibu-ibu yang bersalin lewat operasi caesar.
Dalam ragam kuliner betawi, gabus pucung adalah salah satu
menu favorit. Sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan tubuh. Tapi kalau
keseringan tak baik untuk kesehatan dompet.
"Buruan lo pade pergi sebelum gue berubah
pikiran!" Perintah si abang. Tampaknya kehadiran Hamdan dan teman-teman
justru mengusik perhatiannya menangkap ikan.
"Sory ye bang...!" Hamdan mengacungkan dua
jempolnya.
***
Mereka beranjak pergi meninggalkan si abang menuju daratan
rawa. Jauh di sisi selatan, tampak kendaraan traktor yang sudah mulai
beroperasi. Biasanya Hamdan juga sering main disana, mendaki tebing tanah merah
dengan tali. Namun kali ini, waktunya tak mencukupi, mereka belum shalat ashar.
Sementara waktu sudah sekitar pukul empat sore.
Walau tak punya jam tangan, mereka mampu menerka waktu
dari bayang-bayang. Bila bayangan suatu benda lebih panjang dari obyeknya
dipastikan waktu sudah lewat ashar atau petang. Inilah kebesaran penciptaan
Tuhan yang berkehendak memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dan
menjadikan matahari sebagai penunjuk waktu. Bayang-bayang berendah hati seraya
bersujud kepada Tuhan Maha Pencipta.
Tersisa satu tujuan searah perjalanan pulang, yakni hutan
bambu. Mereka berjalan ke arah timur, menelusuri daratan rawa. Patok-patok
pembatas dipasang kontraktor proyek, mengelilingi daratan rawa. Tulisan spanduk
besarnya jelas terbaca. Anda memasuki
wilayah proyek. Disini akan dibangun hunian eksklusif Vila Nouvo.
"Yo, Ndri, dah sekitar jam empatan nih! Kite jalan
balik!" Seru Hamdan layaknya komandan.
"Siap, Dan!" Dua-duanya kompak mengangkat tangan
menghormat, seperti seorang prajurit ke komandan.
Mereka mulai memasuki hutan bambu. Hamdan dan teman-teman
disambut tarian pohon-pohon bambu yang bergoyang ke kiri-kanan ditiup angin.
Daun-daun kering berjatuhan seperti taburan confetti di atas panggung. Suasana
kian gelap seiring langkah masuk ke dalam. Mereka merasa dipantau mahluk-mahluk
penunggu hutan.
Di hutan ini banyak reptil seperti ular piton dan kadal. Namun,
hewan yang paling sering dijumpai adalah musang atau luwak, sebuah mamalia nokturnal,
yang kerap terlihat pada malam hari di permukiman warga, berjalan di atas
genteng ataupun kabel listrik. Mangsanya adalah serangga, kadal, tikus sampai
ayam. Musang juga penikmat buah-buahan seperti pisang dan pepaya. Sebagian
besar dihabiskan di atas pepohonan (arboreal). Kotoran musang sering ditemukan
dalam bentuk biji-biji buah-buahan utuh. Konon, kopi luwak yang asli berasal
dari biji-biji kopi hasil proses pencernaan musang yang tersisa.
Hamdan terbiasa ke hutan bambu untuk mencari batang bambu
kecil. Anak-anak suka membuat pletokan, mainan sederhana dari bambu. Cukup
dengan peluru koran basah, suaranya nyaring seperti petasan. Kalau anak yang
lebih besar sukanya membuat bledugan atau lodong, sebuah meriam bambu yang
menghasilkan suara dentuman mengelegar.
***
"Buruan ambil-ambilin yang rada tuaan, Yo!” Hamdan
memberi perintah, sambil mematahkan bambu-bambu.
"Mayan ni kite bisa bikin banyak! Kalo perlu dijual
lagi!” Iyo tersenyum, gigi-giginya kuning tampak berkilau.
"Eh, Andri mane, Yo?!"
"Nah loh!" Iyo membuka lebar matanya yang memang belo.
"Nyok kite cari!" ajak Hamdan bergegas menuju ke
dalam hutan bambu.
"Andriiiiii....! Andriiiiii...!" Hamdan dan Iyo
memanggil dengan suara lantang.
Keduanya terus melangkah, menoleh ke kanan dan ke kiri,
memerika ke dalam rimbunnya pohon bambu.
Mereka berpapasan dengan seorang laki-laki yang berlari
tergesa-gesa, berlawanan arah dengan Hamdan. Lelaki itu menuju ke arah rawa seperti
memburu waktu. Saat berpapasan, sepintas Hamdan melihat lelaki itu berambut
ikal, berhidung mancung, dan berperawakan atletis. Di tangannya seperti menggenggam
sesuatu yang dirahasiakan.
"Om....Mau kemana Om? Liat teman saya enggak?!" Tanya
Hamdan.
Orang itu memperlambat langkahnya, menoleh ke belakang
sebentar, terus lanjut berlari. Melambaikan tangan ke atas, memberi isyarat
tidak tahu.
Hamdan dan Iyo saling menatap, mereka kemudian meneruskan
langkah ke arah timur, menuju keluar dari hutan bambu.
***
"Suwiiwiiiiit...." suara siulan panjang dari balik
pohon bambu.
Hamdan dan Iyo mendekat ke arah suara. Ternyata Andri sedang
duduk selonjoran bersama seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan.
"Sini Dan, Yo! Minum, minum...!" Andri bicara
santai tanpa merasa bersalah. Padahal dua temannya kebingungan setelah ia
hilang tanpa jejak.
"Lo kemane sih, Ndri? Kite pusing nyariin, elo malah
nyantai-nyantai aje!" Seru Hamdan kesal.
"Gue tadi nyari-nyari bambu agak jauh! Terus diajak si
om ngumpet disini!" Andri membela diri. "Ada orang stress kata si om
lari ke sini!" Andri meyakinkan. "Om ini malah ngasih kue
pancong!" sambil menyodorkan pancong kepada teman-temannya.
"Ayo dicobain, cil! Enak kuenya!" Si om tersenyum,
menampakan ekspresi bersahabat.
Hamdan menatap tajam wajah si om. Bibirnya tipis. Gigi
serinya tampak tidak rata, beberapa diantaranya tanggal. Hidungnya pesek. Mirip
seperti lelaki di empang Mushola tua. Bedanya, ia berkacamata hitam dan memakai
topi a la seniman.
"Om lagi apa disini?!" tanya Hamdan penasaran.
"Oooh, ini lagi nyari bambu buat bendera!" Si om
tersenyum.
"Tujuh belasan bukannya masih lama om?!" Hamdan
meragukan jawaban si om. Ia bertingkah layaknya seorang wartawan yang mencecar
narasumbernya.
"Buat bendera klub bola!" Si om merasa tak nyaman
dicecar Hamdan. Ia mengalihkan perhatian, mengajak Hamdan dan Iyo menyantap kue
pancong.
Iyo menyikut tangan Hamdan yang duduk di sebelahnya, memberi
kode agar menyudahi obrolan.
"Dri, yuk pulang! Udah sore banget, kite belum solat
ashar! Ustadz Hamdan bilang ga boleh bolong-bolong!" menyindir balik Hamdan
yang lupa waktu salat.
"Nyok...oke om, kite balik duluan!" Andri
berpamitan. "Makasih minum dan kue pancongnye om!" Membereskan
bajunya yang penuh daun bambu kering.
"Ini temennya yang lain gak mau minum ma nyobain
pancong?!" Si om terus membujuk.
"Makasih om! Udah kenyang kite!" Hamdan
menepuk-nepuk perutnya seperti kekenyangan. Padahal selain dahaga, perutnya pun
keroncongan. Hamdan tak biasa menerima makanan dan minuman dari orang asing.
Khawatir ada jampi-jampi sihir ataupun niat buruk lainnya.
Hamdan teringat dulu pernah diajak Bang Rudy mencari bambu
kuning di hutan bambu. Saat itu, lagi ramai-ramainya berita babi
ngepet, mahluk jadi-jadian yang mengincar harta penduduk. Kabarnya,
kawanan babi ngepet datang pada dini hari. Bambu kuning dipercaya mampu
menangkal ilmu santet ataupun sihir. Entah ajaran itu darimana muasalnya.
Pak ustadz yang mengajar Hamdan dan teman-teman mengaji,
hanya mengajarkan bacaan ayat kursi dan surat Tiga Qul untuk mengusir pengaruh
jin. Kata pak ustadz, surat al qur'an itu sudah cukup menangkal kekuatan sihir.
Tak perlu percaya tahayul dan kurafat.
***
Setelah melewati patok pembatas, mereka mampir ke
warung rokok milik opung. Kurang lebih 10 menit lagi, mereka bakal sampai di
rumah.
"Dan, Yo ane duluan ye! Kayanye ane cepirit!"
Andri merintih. Perutnya mulai terasa mulas. Tangannya meraba ke bagian
belakang celana. Lalu mencium ujung jari tangannya.
“Uwooook.....!" Andri mual menahan bau, lidahnya
menjulur seperti ingin muntah. Ia mengambil langkah seribu, meninggalkan dua
temannya.
"Kau lihat orang di rawa?" Tanya opung.
"Banyak orang di rawa, Pung!" Jawab Hamdan.
"Emangnya nape pung?" Sambil menghisap es mambo susu coklat.
"Itu dari siang orang pada rame, ada maling
katanya!" Jelas opung dengan logat Sumatranya yang khas.
"Maling paan pung?" Iyo memainkan permen karetnya,
membentuk balon, mengikuti trend a la tokoh fiksi "Lupus".
"Maling duit di sekolahan sama kotak amal masjid!"
Opung menempelkan jari telunjuknya ke lidah, kemudian kembali menghitung
puluhan lembar uang kertas yang dikepal di tangan kiri. "Katanya
kejadiannya sekitar jam 3-an! Malingnya lari ke arah rawa!"
Hamdan berhenti menghisap es mambonya yang tersisa
seperempat bagian. "Ade orang yang ngenalin gak pung? Kaye gimane
orangnye?! Hamdan penasaran.
"Kau lihat aja di tembok-tembok! Pak RW sama Pak RT
udah nyebarin info ciri-ciri pelaku!"
Hamdan dan Iyo beranjak meninggalkan warung opung. Di
tangannya masih tersisa ciki kaka favoritnya. Rasanya gurih karena mengandung Monosodium Glutamate alias micin.
Hamdan lebih menyukai hadiah ketimbang rasanya. Cikinya malah
sering dihamburkan, diberikan ke ayam Pak Ali. Seperti anak-anak umumnya,
Hamdan juga suka hadiah. Hamdan paling senang ketika Pak Kemon, guru sekolahnya,
memberi kuis berhadiah uang. Sebuah peluang dapat jajan tambahan.
Di dalam kemasan ciki ada kupon hadiah yang bisa ditukar. Hamdan
paling sering dapet nomor 6, hadiahnya lima puluh rupiah, terkadang nomor 5,
seratus rupiah.
Sambil menguyah ciki, Hamdan berjalan pulang. Dirogohnya
kupon hadiah. Tertulis nomor 1, sepuluh ribu rupiah. Seolah tak percaya,
sejurus kemudian dilihatnya lagi kupon kertas.
"Yo, ceban!" Matanya tak bisa lepas dari kupon
hadiah, wajahnya kucelnya berubah 180 derajat. Lalu melompat-lompat kegirangan.
"Wah, iya dan!" Iyo menimpali, lalu turut
melompat-lompat bersama Hamdan.
Hamdan memutar balik badan, ingin bergegas kembali ke warung
opung. Namun Iyo memegang tangan sahabatnya, menahannya memutar haluan.
"Malem nanti aja lah, Dan! Inget kite belum
ashar!" Iyo mengingatkan.
Dua sahabat itu kembali melangkah menuju rumah yang tinggal
berjarak 50 meter. Mata mereka tertuju pada selebaran yang ditempel di
tembok-tembok rumah.
*PENGUMUMAN*
HATI-HATI PADA ORANG-ORANG BERCIRI-CIRI SEBAGAI BERIKUT:
1. BERAMBUT IKAL
2. BERGIGI OMPONG
3. BERMATA PICEK SEBELAH
4. BERKULIT GELAP
5. BERTINGGI SEDANG
6. BERTATO TULISAN "ANJJAL" DI TANGAN
7. RAMAH DAN SUKA MEMBERI HADIAH KE ANAK-ANAK.
WALAU BAIK, IA ADALAH "MUSANG BERBULU AYAM”. RESIDIVIS KAMBUHAN YANG SEDANG DICARI POLISI. MASJID DAN SEKOLAH DI RW 50 TELAH KEBOBOLAN. UANG DI KOTAK AMAL DAN UANG DI LACI KANTOR SEKOLAH DIKURAS. BARANGSIAPA YANG MELIHAT ORANG DENGAN CIRI-CIRI DI ATAS HARAP MENGHUBUNGI RT, RW DAN PIHAK KEAMANAN. LAPORAN AKAN DITINDAKLANJUTI KE KEPOLISIAN. TERIMAKASIH.
DEPOK, SELASA, 9 JULI 1991
KETUA RW GOCAP (MAD GOPAR)
Hamdan dan Iyo saling tatap. Hampa penuh tanya.
*Tamat*
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar