Jeritan Pilu Sang Guru (Fiksi)

Pak Sukro terdiam di kursi rotannya. Guru yang lima tahun lagi bakal pensiun ini menatap langit yang tampak suram sesuram hatinya. Sejak awal pandemi, ia tersiksa batin karena tak bisa berjumpa dengan murid-muridnya. Anak-anak murid dianggap layaknya cucu-cucu di rumah. Ada kerinduan mendalam, menjalar ke seluruh aliran darah, memuncak hingga ubun-ubun kepala. Mungkin ini yang membuatnya belakangan sering sakit-sakitan. Kebahagiaan terenggut. Pikiran kalut. Perasaan takut. Terbayang dijemput maut. Pak Sukro memang bukan siapa-siapa di sekolah. Ia tak punya jabatan, tak punya kewenangan. Tapi semua segan. Sekali berbicara, semua terkesima. Ia jadi tempat guru-guru meminta nasihat, tempat siswa-siswa melempar curhat.

Pak Sukro bukan guru yang gagap teknologi media daring, seperti:  classroom, aplikasi video meeting yang populer di kala pandemi. Sarana yang kini akrab digunakan dari SD sampai universitas, training motivasi, bimtek institusi, sampai rapat korporasi. Terbayang keuntungan tumpah ruah pencipta video meeting, bahkan mungkin jauh melampaui operator seluler yang  meneguk untung tatkala sebagian bisnis lesu. Semangat belajar Pak Sukro justru tinggi. Dulu ia pernah menjadi penulis naskah sandiwara radio, instruktur komputer zaman Dos, WS, dan Lotus sampai jadi teknisi hape polifonik sebelum akhirnya ditinggalkan demi fokus mengajar.  Prinsip hidupnya totalitas. Berbekal segudang pengalaman, pak Sukro terampil membuat template presentasi menarik, dan animasi a la Powtoon. Tapi, itu semua tak memuaskan dahaganya sebagai pendidik.

Hari-hari sekolah tanpa mengajar langsung ibarat makan sayur tanpa garam. Hambar. Beberapa kali  video meeting tetap tak terbangun chemistry interpersonal. Apalagi tidak semua siswa bisa ikut karena tak punya gawai ataupun kuota. Sebagian siswa dari golongan menengah ke bawah. Apa mereka harus belanjakan bansos untuk beli kuota? Pak Sukro seperti sedang meracau ketika layar video siswa mati. Tak tahu apa siswa tertidur atau malah kabur. Tapi, mereka tetap tak bisa disalahkan. Ada yang sengaja menonaktifkan layar agar hemat kuota. Durasi 1 jam video meeting bisa habis 250-500 Mb. Pekan ke pekan, peserta terus berkurang. Hanya tersisa mereka yang cukup mapan. Ujungnya, guru-guru kembali masa awal PJJ, hanya memberi tugas. Video meeting cukup saat supervisi pengawas. Tak usah jauh bicara profesionalitas, terpenting justru  bagaimana membangkitkan rasa malas.

**

" Qo Ro Na ..." Pak Sukro membimbing murid ngajinya. Keseharian bapak 1 anak dan kakek 2 cucu ini dihabiskan di saung belakang rumah untuk mengajar Iqro. Tanah seluas 120 meter persegi yang dibeli dari uang tabungan sertifikasi ini memang diniatkan untuk pendidikan dan dakwah. Tak hanya mengajar ngaji anak-anak, remaja putus sekolah, para pemulung juga rutin mengaji sepekan sekali. Belakangan siswa-siswanya juga datang ke rumah Pak Sukro. Ada yang datang  sendiri, ada yang datang bersama ibunya. Orangtua  menitipkan anaknya karena takut si anak  kecanduan gawai. Masa PJJ ini memang seperti buah simalakama. Sekolah ditutup karena alasan menangkal penyebaran pandemi. Namun kenyataannya, tak sedikit anak-anak keluyuran. Diam di rumah pun tak jamin belajar. Bisa jadi larinya malah ke gawai, entah main FF, ML, PUBG atau malah eksis ber-tiktok dan IG-an.

 

Dunia anak memang dunia bermain. Tapi zaman sekarang, anak lebih gandrung bermain gawai ketimbang bermain di alam. Bila sekolah masuk, anak-anak terpaksa tak sentuh gawai. Sekolah jadi tempat bersosilisasi di luar misi belajar. Sebaliknya, PJJ malah mengakrabkan anak dengan gawai.  Kebun "Bolang" Pak Sukro memberikan apa yang anak-anak butuhkan. Pak Sukro memang sengaja membuat empang, kolam, dan sarana bermain serta beberapa petak untuk tanaman umbi-umbian. Ia membagi waktu kegiatan. Pagi sampai jam 10 untuk mereka belajar, ashar untuk mengaji. Sedangkan siang full untuk istirahat.  Malamnya jatah Pak Sukro bersama keluarga dan menyalurkan hobi membaca buku. Sudah 2/3 siswa kelas ikut belajar di kebun Bolang. Siang hari saat Pak Sukro tidur, anak-anak bermain di kebun. Aktifitas Pak Sukro sampai di telinga Ibu Kepsek. Pak Sukro pun diminta menghadap.

**

" Pak Sukro, kenapa bapak bertindak di luar intruksi?!" Tanya Bu Kepsek sambil merapikan nametag bertulis KEPALA SEKOLAH yg agak miring.

" Ini bukan keinginan saya bu! Tapi anak-anak yang datang sendiri. Bahkan, orangtua yang memaksa anaknya belajar di kebun saya!" jawab Pak Sukro

" Bapak tetap harus tolak! Ingat pak, intruksinya PJJ. Tak boleh ada tatap muka di zona oranye sesuai SKB 4 menteri!" suara kepsek yang usianya lebih muda 15 tahun dari Pak Sukro meninggi

" Saya paham bu. Tapi, saya risau karena banyak anak jadi tak belajar!" balas pak Sukro tenang

" Bapak, bisa kasih tugas-tugas aja! Yang penting anak-anak ada kegiatan!"perintah Bu Kepsek sambil membetulkan kacamatanya yang sudah mulai turun

" Mohon maaf bu...Mendidik bagi saya bukan cuma memberi tugas-tugas! Anak-anak pun bisa jadi tak paham dengan materinya!"

" Bapak jangan mengajari saya! Saya ini sudah 18 tahun mengajar, ikut bimtek dimana-mana, diklat kepsek, dan penugasan sebagai pemateri!" . Raut muka ibu kepsek berubah, matanya tajam menatap Pak Sukro.

Pak Sukro tetap menunjukan keramahan. Ia tetap menghormati ibu kepsek sebagai atasannya, walaupun secara pengalaman sebenarnya Pak Sukro lebih banyak. Saat Pak Sukro sudah mengajar, Ibu kepsek masih berseragam putih biru.

" Baik bu! Mohon maaf...." kata Pak Sukro singkat

Pak Sukro sama sekali tak marah dengan teguran Kepsek. Ia hanya risau bagaimana dengan kelanjutan belajar di kebun bolang.

 

 


Ibu kepsek sudah lama menyimpan cemburu kepada Pak Sukro. Guru paling senior di sekolah itu dianggap merongrong kewibawaan Ibu Sarimun sebagai kepala sekolah. Banyak guru menghormati Pak Sukro. Hanya satu guru yang tak respek sama sekali, yaitu Pak Kadir. Guru pindahan dari sekolah luar kabupaten ini seringkali beraksi a la spionase. Apa yang didengar Bu Imun biasanya dari bisikan Pak Kadir.

Bukan hanya pentas politik yang penuh kasak-kusuk, tapi juga terkadang dunia kerja. Mungkin dipicu ambisi mengejar posisi. Sebenarnya urusan kita hanyalah bekerja sesuai tupoksi. Tak ada urusan dengan koalisi ataupun oposisi. Bahkan, kalau kita amanah, tak usah pusing oleh jeleknya persepsi. Soal singgungan dalam urusan kerja, hal wajar dalam organisasi. Jangan diambil hati. Apalagi sampai tak bertegur sapa berhari-hari. Karena setan akan terus memprovokasi. Lama-lama berubah menjadi benci.

**

" Jangan sampai nama ibu rusak! Apalagi sampai menghambat peluang ibu jadi kepsek berprestasi!

kata Pak Kadir . " Selama ini, Pak Sukro ini jadi rujukan guru-guru...Masa wibawa ibu kalah dari Pak Sukro?! Padahal Ibu ini adalah orang hebat, cerdas dan terhormat!" puji Pak Kadir

Ibu Imun merasa tersanjung. Selama ini jarang ada yang memujinya setinggi langit. Padahal, Pak Kadir hanya memanas-manasi Bu Imun.

Orang biasanya senang dipuji. Pujian itu adalah bentuk apresiasi. Tapi jangan sampai mabuk pujian hingga berbangga diri. Tak sadar virus ujub merayap di hati. Sebenarnya pujian berlebihan justru membinasakan. Tak sadar lama-lama mendongakkan kepala saat berjalan. Padahal manusia punya banyak kelemahan. Kepintarannya semata karunia Tuhan.

**

Diam-diam Pak Kadir melaporkan soal belajar tatap muka di kebun bolang ke orang dinas. Kalau di sekolah, ia sanjung tinggi Bu Imun. Lain halnya ke orang dinas, Bu Imun justru dijatuhkan. Disebut tak tegas kepada Pak Sukro yang dianggap melanggar aturan. Buntutnya, Bu Imun dipanggil dinas. Masalah ini pun tercium media lokal. "Sekolah Langgar Aturan, Biarkan Kerumunan" demikian judul berita salah satu surat kabar. Padahal duduk masalahnya belum jelas.

Masalah jadi gaduh. Pihak berwajib pun turun tangan. Bu Imun dinterogasi sebagai saksi. Ia menolak bertanggungjawab. Kerumunan itu terjadi di luar wilayah sekolah. Selanjutnya, giliran rumah Pak Sukro didatangi Polisi.

Kebun Pak Sukro untuk sementara disegel. Ada garis polisi yang menandakan kebun tersebut menjadi lokasi penyelidikan.

 

 

Pak Sukro juga harus menjalani pemeriksaan sebagai saksi di kantor polisi. Ia dicecar 20 pertanyaan oleh penyidik terkait dugaan menciptakan kerumunan. Di hari berikutnya giliran saksi-saksi dari orangtua siswa dipanggil polisi.

" Pak, kami yang memaksa! Kami khawatir anak-anak jadi nongkrong tidak jelas! Bahkan di wilayah kami, ada sekumpulan pemuda pengangguran yang sering konsumsi miras! Kami tak ingin anak-anak terjerumus dalam hal yang diharamkan agama! Sungguh Bukan Pak Sukro, malah kami yang bersalah!" beber seorang saksi di kantor polisi

Belum selesai kasus kerumunan, berhembus kabar Pak Sukro tersandung kasus pelecehan seksual di kebun bolang. Isu keji dihembuskan orang-orang yang tak suka dengan kegiatan Pak Sukro. Kredibilitas Pak Sukro sengaja dirusak oleh mereka yang lebih senang remaja akrab dengan miras hingga napza.

**

Kabar tidak baik tentang Pak Sukro jadi pembicaraan warga sekolah.

" Pak Sukro, pak sukro....! Taunya musang berbulu domba!" seloroh pak Kadir sinis

" Pak Kadir, kok bisa-bisanya ngomong gitu!" Bu Sari menimpali

" Lah mang gitu kok bu! Diem-diem taunya lecehkan anak!" tambah pak kadir

" Pak Kadir ini sembarangan bicara! Pak Sukro itu orang baik...tak mungkin berlaku sekeji itu!" bela bu Sari

" Sebagai seorang muslim, kita ini harus berprasangka baik terhadap saudara kita pak!" sambung Bu Ida

" Bersalaman sama siswi kelas 6 aja Pak Sukro membiasakan tak bersentuhan! Mana mungkin berbuat jelek!"  Bu Dyah memimpali

" Ibu ibu ini sudah tersihir sama jampi-jampi Pak Sukro! Lain sekolah lain kebon bu!" Balas Pak Kadir sambil tersenyum kecut

Rapat dewan guru bersama kepala sekolah berlangsung kaku. Ceria telah sirna. Ibu Imun memutuskan mencopot Pak Sukro dari posisi wali kelas 6. Alasannya, supaya Pak Sukro fokus dengan kasus yang dihadapi. Keputusan ini disambut baik Pak Kadir, tapi tidak demikian halnya guru-guru lain. Bila wajah Pak Kadir sumringah bagai rembulan terang di kegelapan malam, wajah guru-guru suram bagai langit gelap berselimut mendung isyarat hujan.

Ruang gerak Pak Sukro juga dibatasi. Ia tak dizinkan ke sekolah dulu hingga kasusnya tuntas. Kebun bolang untuk sementara waktu ditutup. Tak ada lagi suara riuh anak-anak, yang ada hanya suara kokok ayam dan kicauan burung.

 "Qorona Qorona Qorona Qorona" suara Nuri yang latah karena sering mendengar suara Pak Sukro mengajar Iqro.

 

Pak Sukro termenung murung di kursi rotannya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dengan status guru non-job, tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Hanya galau menyelimuti. Pak Sukro menanti keputusan pihak berwajib. Apakah kasus dihentikan ataukah berlanjut.

Pak Sukro teringat masa awal menjadi guru ketika hidupnya masih terhimpit. Persis seperti lagu "Guru Oemar Bakrie" Bang Iwan Fals. Semuanya serba kekurangan. Terkadang harus tambal sulam untuk mencukupi kebutuhan. Entah berjualan minyak wangi, kopiah atau barang-barang musiman. Tapi, walaupun sulit, Pak Sukro tak lupa  berbagi. Ia sisihkan hartanya untuk sedekah. Hidup boleh sulit, tapi hati tak boleh sempit. Ucapan Istighfar terus mengalir dari lisan Pak Sukro. Menunjukan ketidakberdayaan di sisi Tuhan yang memiliki keagungan.

**

Kasus kerumunan dalam belajar tatap muka terus bergulir di ruang publik. Acara talk show televisi yang dipandu wartawan senior, Bung Kurni, sampai mengangkat judul, "Mau Dibawa Kemana Pendidikan kita?? Lost Generation di Depan Mata!"

Praktisi, pakar pendidikan, politisi, aktivis serta pengamat sosial turut bersuara.

Seorang sosiolog ternama mengomentari kasus-kasus aktual, diantaranya kasus Pak Sukro. Ia menyebutkan masalah ini adalah murni kegelisahan orangtua yang khawatir anaknya terjebak hal-hal yang negatif. Yang paling sederhana adalah kacaunya jam biologis anak, kecanduan game online, malas belajar hingga ancaman putus sekolah. Bahaya terparah adalah paparan pornograpy, miras hingga napza. Generasi yang hilang ini tak kalah berbahaya dari ancaman pandemi.

Tiga pekan berlalu, keputusan akhir dari pihak berwajib pun datang. Kasus dihentikan. Pak Sukro tak terbukti dengan sengaja menciptakan kerumunan. Ia tak pernah mengajak siswa ikut kelas belajar. Semua murni inisiatif orangtua. Pak Sukro juga tak pernah memungut sepeser pun  bayaran. Kegiatan dijalankan dengan protokol kesehatan. Anak-anak yang alami demam dilarang ikut belajar. Hanya jam bermain siang yang dinilai rawan. Karenanya, pihak berwajib dan pemkab menghentikan kegiatan belajar dan mengaji di kebun bolang serta kegiatan serupa sampai kabupaten menjadi zona kuning atau hijau. Itu pun harus mendapat izin resmi aparat berwenang. Namun setidaknya keresahan orangtua kini sedikit berkurang. Laporan mereka ditindaklanjuti polisi. Pemuda pengangguran yang sering mengajak remaja melakukan hal negatif ditertibkan.

 

Dibalik syukur, Pak Sukro tetap bermuram durja. Ia seperti tak punya masa depan. Padahal, Pak Sukro memang tak punya ambisi jabatan dan hal keduniawian. Ia hanya ingin bekerja dengan sebaik-baiknya pengabdian.

Lama menimbang, keputusannya suda bulat. Pak Sukro akan berhenti sebagai guru sekolah. Tak ada setitik pun benci dan dendam kepada Bu Imun, Pak Kadir, atau siapapun. Hatinya tetap lapang.

Pak Sukro hanya tak mau makan gaji buta tanpa benar-benar mencurahkan tenaga dan fikiran di sekolah. Bekerja bukan sekedar cari makan dan penghidupan. Tapi juga bentuk ibadah kepada Tuhan. “ Kalau begini terus saya ingin tamasya ke surga" bisiknya dalam hati

Tiba-tiba Braaak, tubuhnya ambruk ke lantai,  "Laa.. ilaha....illallah..." ucapnya lirih sebelum terbujur kaku

Komentar

Postingan Populer