Go Green? Selamatkan Hutan Kita!

Rencana pemindahan ibukota dari Jakarta ke Kutai dan Penajam, Kalimantan Timur mengundang keprihatinan sejumlah pihak, utamanya aktivis lingkungan dan mereka yang memahami arti penting pelestarian lingkungan.Tak terkecuali, pelajar sekolah yang seringkali mendapat materi tentang lingkungan hidup.

Saat mengajar tentang persebaran Flora dan Fauna di Indonesia dan konversi lahan untuk kepentingan industri, saya melontarkan pertanyaannya kepada siswa, seberapa penting arti hutan bagi kehidupan? Anak-anak menjawab serempak, " Paru-paru dunia! Tempat satwa hidup!" jawab mereka lantang.


Saya juga memutarkan video tentang Hutan Indonesia, Hutan Hujan Tropis dan aneka satwa yang ada di dalamnya dan data tentang deforestasi di Indonesia. Lebih jauh, saya ajak anak-anak membaca tulisan seorang Jurnalis, Fotografer pecinta lingkungan sekaligus peneliti asal Inggris, Vivien Cumming di BBC Earth, yang dialihbahasakan dengan judul " Menyibak keindahan alam Kalimantan yang terekam hampir 50 tahun lalu". 



Dalam tulisannya, Cumming melukiskan dengan indah pesona Hutan Kalimantan yang lambat laun terus tergerus eksploitasi industri dan konsumerisme modernitas.

Saya minta anak-anak menyimpulkan tulisan Cumming dan pendapat mereka dalam secarik kertas tentang rencana pemindahan ibukota ke Kalimantan Timur. Sebagian besar isi tulisan mereka emosional, seperti halnya kesedihan mereka saat melihat video penebangan liar yg merusak alam. Mereka mengkhawatirkan kehilangan harta berharga kita "Emas Hijau".

Kecemasan mereka bukan tak berdasar. LSM Pelestarian Lingkungan, Eye On the Forest, menyoroti deforestasi yang berkelanjutan di Kalimantan. Rata-rata deforestasi per tahun  mencapai 0,9 persen atau sekitar 300.000 hektar hutan tergerus di tahun 2000-2008, dan terus meningkat menjadi 1,1 persen antara tahun 2009 hingga 2016.



Bahkan, LSM Lingkungan Internasional, WWF, menyebut Kalimantan akan kehilangan 70 persen hutannya pada tahun 2020 (DW). Belum lagi ancaman kepunahan satwa seperti yang dikhawatirkan Cumming dalam tulisannya. Deforestasi dinilai sebagai penyebab anjloknya populasi satwa langka.

Jurnal Current Biology melansir, hampir 150.000 orangutan punah di Kalimantan dalam kurun waktu 16 tahun. Peneliti mengungkapkan populasi satwa yang terancam punah menyusut 50 persen hingga 2015 silam. Selain itu, populasi satwa terancam punah diperkirakan akan menyusut sebanyak 45.000 ekor pada 2050 (Republika).

Janji pemerintah tentang ibukota baru akan ramah lingkungan dan tak mengorbankan hutan, belum bisa menjadi jaminan. Aktivis LSM Borneo Orangutan Survival Foundation, yang berbasis di Kutai Kartanegara, menyebut pusat Ibukota mungkin akan jauh. Tapi pembangunannya akan merambah kemana-mana, seperti halnya Jakarta (Reuters).

Akhirnya, kita hanya berharap, program "Go Green" yang dicanangkan di seluruh lini kehidupan negeri ini, termasuk di dunia pendidikan, tak hanya berbicara tentang penghijauan ataupun penghematan barang-barang yang berpotensi menambah beban lingkungan, tapi juga pelestarian alam dan pemeliharaanya dari segala hal yang merusaknya. Selamatkan hutan kita! 

courtesy foto:
Ramdan_Nain, Eye On The Forest

Komentar

Postingan Populer