Guru Baru ke Palembang
Berkunjung ke Palembang dalam rangka mengikuti Bimbingan Teknis Literasi, menjadi pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di kota tertua di Indonesia, wilayah imperium maritim nusantara, Sriwijaya.

Di bumi Wong Kito pula tak dinyana saya bertemu dengan sesama orang Depok. Mba Retno, ia disapa,
tinggal di dekat rumah orang tua saya di Depok Dua. Bahkan, kami ternyata masih satu jamaah masjid. Ia mengaku sudah lama tidak ke Depok. Rumah orangtuanya kini dibiarkan kosong.
Seiring menjalani tugas sebagai Guru Garis Depan (GGD), dua orangtuanya yang lanjut usia, pindah ke Klaten, Jawa Tengah. Dua bulan terakhir, malah menemani Mba Retno bertugas di SD Satu Atap di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Mba Retno mengatakan hidup di daerah terpencil sudah menjadi konsekuensi pilihan saat mengikuti program Sarjana Mendidik di Wilayah Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM3T). Ia mengaku sudah mendapat gemblengan saat mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).
" Saya dilatih survival pak sama tentara, sampai ada makan ularnya!" Ceritanya bersemangat.
Hidup dengan segala keterbatasan, mulai dari tidak adanya jaringan internet, --hanya telepon dan sms mengunakan hape model lama--, kendala pasokan listrik dan sulitnya akses transportasi harus dijalani selama bertugas. Perempuan berusia 32 tahun ini mengaku sudah terbiasa dengan kondisi yang ada. Tak ada keluhan ataupun kekhawatiran.
" Saya tidak takut berjalan di tengah hutan sendirian ataupun melewati kuburan malam-malam!" Katanya sambil tersenyum.
Ia mengatakan malah takut hidup sendirian di kota seperti Jakarta.
Beberapa bulan belakangan, ia sedang membangun rumah di Timor Tengah Selatan. Orangtuanya mendorong membangun rumah sendiri ketimbang tinggal di bangunan milik sekolah. Perempuan berhijab lulusan Universitas Negeri Jakarta(UNJ) ini sekarang harus menyisihkan gajinya untuk mencicil Rumah.
Saat ditanya, adakah keinginan kembali ke kota. Mba Retno yang masih melajang ini berterus terang, ingin kembali suatu waktu, karena menimbang orangtua yang sudah lanjut usia. Ia tak mau orangtuanya terus menemaninya di tempat bertugas.
Walau tinggal di wilayah terpencil jiwa bisnisnya tak pudar. Ia mengajak saya bekerjasama, mengirim produk-produk Tanah Abang untuk dijual kembali di Timor Tengah Selatan.
" Harga jualnya bisa lumayan pak! Susah cari barang baju-baju seperti di Jakarta!" katanya meyakinkan.
Kamis (22/11/18) menjadi pertemuan terakhir kami di Bumi yang kebun binatangnya berisi ribuan gajah, menukil surat Raja Sri Indravarman (702 M) kepada Khalifah Bani Ummayah, Umar Bin Abdul Aziz dalam catatan Ibnu Abdu Rabbih.
Jauh nun di seberang, ada orang-orang yang penuh kesungguhan, rela berkorban dan menebar kemanfaatan untuk anak-anak Indonesia. Sebuah pelajaran untuk semua anak bangsa. *Selamat Hari Guru!*

Komentar
Posting Komentar