Misteri Ban Bocor



Baru sekitar 300 meter melaju, ban motor Feri sudah oleng. Ia menepi ke tukang tambal ban yang berada tak jauh dari lokasi. Pikirannya melesat ke berita televisi tentang modus tebar paku di jalan-jalan besar Jakarta. Tukang tambal mengail keuntungan dengan menebar paku. Pengendara tak punya pilihan selain mengikuti harga tembak yang berlaku. Lima puluh ribu rupiah sekali tambal. Tawaran mencekik, tapi sulit ditampik.

Wajah tukang bengkel terlihat garang. Tak ada basa-basi. "Dua belas rebu!" dengan wajah kaku. Tak ada rugi bersikap ramah. Senyum jadi isyarat persahabatan. Bahkan, sedekah yang paling mudah. Asal jangan senyum-senyum sendiri. Salah-salah dibilang gila nanti. " Makasih bang!" sambil menstarter motor matic cicilannya yang belum lunas. Dari sekolah, pikirannya kini tertuju ke anak-anak bimbel yang menanti di rumah.

Masalah ban bocor bukan cuma dialami Feri. Rekan-rekan guru baru mengalami nasib sama. Ada yang bocor di hari senin, selasa, rabu hingga kamis. Berturut-turut saat mereka baru menginjakan kaki di sekolah baru. Polanya sama, bocor di bagian ban belakang. Ada yang baru 50 meter, 100, 200, sampai 300 meter setelah beranjak dari sekolah. Sirnalah dugaan tukang bengkel kemarin, meniru modus berita krimimal yang terkadang memang malah menginspirasi ketimbang memberi informasi.

Tapi janggalnya, dari 5 orang guru, hanya satu guru, yaitu Pak Sugi yang selamat. Pak Sugi sendiri adalah guru lama di sekolah.Tapi apa mungkin Pak Sugi berniat memplonco guru-guru baru, layaknya senior kampus yang petantang-petenteng di masa ospek, biar dianggap senior.  Tapi, wajah Pak Sugi yang sejuk kelihatan tak punya niat buruk.

Beberapa “orang lama” di sekolah,  staf sekolah seperti TU, janitor dan satpam selalu memperhatikan guru-guru baru. Feri dan rekan-rekan selalu menebar salam, “Assalamualaikum Mang! Sehat?” beriring senyum saat berpapasan untuk mengugurkan kesalahan. Bertegur sapa bukan basa basi tapi wujud tulusnya hati. Apalagi, agama mengajarkan senyum, memasang wajah ceria, dan menebar salam.

Tak ada jabatan yang dirampas. Semua tugas sudah selaras. Tak mungkin guru mengambil alih pekerjaan staf, begitupun sebaliknya. Tak ada rizki yang salah tempat. Tak ada alasan memendam dengki dan berniat jahat.


Sekolah sepi, siswa-siswa masih libur akhir tahun pelajaran. Apalagi, momen liburan ini ada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Pastinya anak-anak, khususnya yang laki-laki,  ikut terimbas hiruk-pikuk piala dunia. Dulu, saat SMP, liburan sekolah bertepatan dengan Piala Dunia Amerika Serikat 1994. Selain menonton, setiap hari kami praktek skill, teknik hingga gaya eksentrik pemain Piala Dunia. Namun, entah sekarang di era millenial. Mungkin lebih senang mainkan jempol di gawai, bermain game FIFA, WE, atau Dream Soccer.

Beberapa tukang lalu-lalang mengerjakan proyek perapihan sarana sekolah. Motor-motor para guru baru memang terpakir di antara jalan yang dilewati tukang. Apa mungkin para kuli terganggu dengan motor para guru yang mengganggu gerak kerjanya?


Misteri ban motor bocor belum terpecahkan. Tidak ada kamera CCTV di sekolah yang mampu merekam situasi. Di TKP juga tak ada bukti-bukti. Pak sugi? Staf sekolah? Kuli? Tak baik menduga-duga apalagi tak cukup bukti. Atau malah jangan-jangan pelakunya dari guru baru sendiri, tetapi beralibi bernasib sama. Mungkin ingin menciptakan rumor bahwa sekolah tak aman sehingga perlu ganti security karena adiknya nganggur di rumah. Siapa tahu bisa jadi security pengganti. Halah, kita terlalu banyak dicekoki teori konsipirasi.  Wabah konspirasi, vaksin konspirasi. Dikit-dikit konspirasi. Benarnya ini perkara mudah. Solusinya cukup pasrah. Anggap aja musibah. Jadi gak perlu tebar fitnah.

Feri cuma masih penasaran. Kok bisa ban motor guru baru semuanya bocor, dan berturut-turut pula. Tapi, tak ada bocor berulang. Pelaku seperti membuat pola.


Hari pertama MPLS, guru-guru masih diselimuti cemas. Khawatir insiden berulang. Bukan soal biaya tambal. Tapi, energi dan waktu untuk tuntun motor ke tukang tambal. Feri diminta rekannya, bu Ami dan bu Lis mengawasi motor guru-guru dari sudut gedung lantai 2 di sela-sela acara MPLS. Tentunya  tak perlu melibatkan reserse untuk memindai sidik jari di pentil ataupun pelek. Nanti malah mengarah ke tukang tambal yang banyak memegang pelek atau menempelkan tetes air liur di pentil.



Sudah 10 menit berlalu, tak ada gerak-gerik mencurigakan. Padahal, Feri berharap pelaku tertangkap basah. Tiba-tiba sekelabat bayangan muncul. Lalu sekejap hilang diantara makam di sekitar sekolah. Makam yang sepi dari hiruk pikuk manusia yang sibuk dengan urusan dunia. Makam yang sebentar lagi bakal tertutup dinding masjid baru sekolah.   (End)


Inspired by true event ðŸ™‚



Komentar

Postingan Populer