Pena 212

Angin malam menusuk tulang. Dari dalam kaca kendaraan, tampak ratusan orang berjalan menyusuri jalan. Pekik takbir terus bersahutan.

Di dalam ruangan ber-AC ekstra dingin, seorang pekerja media melihat gambar foto, menatap wajah-wajah para pemuda yg berjalan dari kota pinggiran Jakarta menuju satu sasaran,  Monas!
Sebagian wajah ia kenali. Terbawa emosi, ditulisnya berita dengan penuh semangat. 

*
Rombongan sudah sampai sebuah kantor kementerian, di sisi barat Monas. Sebagian pemuda melepas lelah. Kalau tak ada momen ini, jarang-jarang mereka mampu berjalan sejauh ini. Paling-paling, cuma sepekan sekali. Itu pun di sebuah pasar kaget. Jalan sebentar, bawa tentengan, lalu mampir di warung soto ayam atau ketoprak.


**

Dua pekerja media berburu menggapai Monas dengan sebuah taksi. Mereka bukan tengah berburu berita. Tapi, sengaja datang untuk menjadi saksi keberpihakan pada kebenaran. Sesuatu yang mungkin sering khilaf mereka lakukan. Usai membayar ongkos, diambilnya peci dari dalam tas. Koko dan peci setidaknya mampu menyulap penampilan, membuat tak beda dengan guru-guru madrasah.


 *

Rombongan pemuda terus merangsek masuk menuju pusat Monas. Mereka tak mau ketinggalan satu pun agenda acara. Seorang pemuda meringis, maagh-nya kambuh. Sejak semalam sepotong roti pun belum masuk ke lambungnya. Ia sudah menulis surat wasiat untuk anak istrinya, khawatir dijemput malaikat maut. Dalam lamunan membayangkan anak-anaknya yg masih kecil, seorang ibu muda berpenampilan elegan, menghampiri. Si ibu yang wajahnya seperti tak asing di layar kaca, membagikan nasi kotak, roti, buah-buahan, kurma, ditambah 2 buah susu UHT. Paket ini jauh lebih komplit dibanding konsumsi di seminar, training, workshop, bimtek yang ia hadiri sebagai utusan organisasi.

 **

Matahari bersinar redup. Cuaca hari ini begitu bersahabat. Tak ada sengatan sinarnya yang sering dituding sebagai penyebab kulit bertambah gelap. Gelombang peserta aksi membuat jalan-jalan protokol sekitar Monas layaknya lautan putih. Si pekerja media yang lebih muda meminta seniornya yang akrab disapa Uda, terus bergerak ke depan. Tapi, padatnya peserta, membuat mereka tertahan di Menara Mandiri. Speaker acara yg terpasang di titik ujung jalan, terus memperdengarkan tausyiah para kiai.  Setelah dilembutkan dengan zikir Ustadz Arifin, giliran A'a Gym menenangkan hati. Kalau Bela Qur'an, Qur'annya juga harus sering dibaca dan direnungkan. Pesan A'a menghujam ke hati, menghantam mereka yang terlalu disibukan rutinitas pekerjaan.



Gema tahlil terus membahana. Sang wartawan muda dan senior terbawa suasana, melafalkan kalimat yang diharapkan menjadi akhir penutup hidupnya. Pandangan mereka menatap wajah-wajah bule yang menenteng kamera video dan  foto. Para awak pers asing itu sigap mengambil gambar peserta aksi, terutama yang berseru takbir dan tahlil dengan histeris. Sebelumnya, sebutan "Conservative Muslim", "Hardliner Islam" telah menghiasi pemberitaan media asing, melaporkan aksi yang memancing orang berlomba-lomba longmarch. Persis sama saat Newyork Times, 19/11/45, memberi judul "Moslem Fanatics Fight ini Surabaya" untuk memberi stigma negatif perjuangan para santri pada 10 November. Wartawan muda dan seniornya saling menatap, berkedip. Kini, mereka hanya menjadi objek berita.


Doa-doa terus dipanjatkan, berharap pintu-pintu langit terbuka. Panas sepertinya telah lenyap dari Jakarta. Titik-titik air hujan mulai jatuh seiring mengalirnya air mata yang membelah pipi. Angin sejuk bertiup, diikuti butir air hujan yang terus membesar. Suasana bertambah khusyu saat doa penutup dipanjatkan. Guyuran hujan  membasahi kawasan sekitar monas, mengusir kegalauan peserta yang belum berwudhu untuk jum'atan. Hujan ini sudah lebih dari memadai, mencukupi 7 juta peserta aksi ketimbang berdesak-desakan menggapai tempat wudhu yang disediakan mabes polri. Sang pemuda dan teman-temannya tetap di barisan depan. Gelisah sirna. Dari mulai kebutuhan perut hingga bersuci. Sepertinya setiap jeritan hati, terkabul disini.


 *

Tiba-tiba terbayang wajah ibu dan bapaknya di rumah, anak dan istri dan murid-murid di sekolah. Mungkin karena terbayang kain kafan membalut badan sejak berangkat dari rumah. Adzan jum'at berkumandang. Lantunan ayat Qur'an di setiap rakaat jum'at yang dipimpin Kiai Nasir Zein, seperti membawa ke alam lain. Membuang segala kerakusan dan nafsu duniawi. Karir, jabatan, harta seperti tak ada artinya. Kecuali, mereka yang menghadap ALLAH dengan hati yang bersih. Ruh-ruh saling bertautan seperti pasukan yang berbaris rapi. Perasaan mereka semua sama. Dari mulai guru, wartawan, profesional, pengusaha, santri hingga pedagang keliling. Walau tak saling mengenal dan terpisah jarak shaf hingga ratusan atau ribuan meter, tapi terikat dalam indahnya persaudaraan iman.



**

Usai doa ba'da jum'at, berangsur-angsur peserta meninggalkan lokasi. Uda, si wartawan senior, membuka kardus rokoknya. Mulutnya sudah pahit sejak shubuh tadi. Ia meminta juniornya mengambil foto. Katanya untuk bukti ke anak-istri.  Mereka juga berfoto bersama, meminta tolong peserta aksi lain yang hilir mudik. Sebagian peserta di jalan MH Thamrin ini memang dari kalangan muda. Kisaran antara 17 hingga 30 tahun. Bahkan, yang berkerumun biasanya santri putra dan putri pesantren. Mungkin, ini tugas praktek membela kebenaran dan kemuliaan Islam. Sang wartawan muda teringat anak-didiknya sekitar 13 tahun silam. Masih teringat, bagaimana semangatnya anak-anak ketika mengikuti kegiatan outbound hingga mendaki gunung.

Mereka akhirnya berpisah disini. Uda ingin menjemput anaknya di sebuah kampus di Jakpus. Namun tak satu pun angkutan melintas. Ingin pesan angkutan daring, gawainya sudah uzur, sama seperti usianya yang mendekati pensiun. Juniornya menawarkan bantuan. Tapi gayanya selalu sama. Berkedip lalu bilang, "santai!". Ia malah menyuruh juniornya bergegas, kuatir tak kebagian kereta. Setelah bersalaman, keduanya berpisah. Sang wartawan muda berjalan sendirian menuju stasiun Tanah Abang. Tanpa teman, tak seperti kebanyakan orang yang datang dan pulang berombongan. Bajunya sudah basah, ditambah perut kosong. Alamat bakal masuk angin dan kerokan di rumah. Tapi, ia selalu bersiap. Baju salin dikemas dalam plastik sudah di dalam tas. Persiapan sebelum berperang adalah hal wajib.

 *

Ia sudah tak khawatir dengan maagh-nya yg sering kambuh. Paket makanan lengkap. Setiap sudut jalan layaknya toserba. Paket makanan melimpah. AMBIL GRATIS. Persis seperti tajilan di masjid-masjid untuk musafir di bulan ramadhan. Ia masih bersama rombongan yang sebagian dari kawan pengajian dan rekan-rekan guru sekolah islam. Bukan hanya paket makanan, wajah-wajah a la sosialita hijaber, lalu lalang sepanjang jalan. Ah, ini bukan pemandangan gratisan. Harus jaga pandangan. Ingat istri di rumah yang jungkir balik sejak di kursi pelaminan. Apalagi poligami cuma ada dalam lamunan dan obrolan kesiangan. Gaji guru berapa sih? Keluarga kecil  pun tetap harus cari sampingan. Aksi ini luar biasa. Seluruh lapisan masyarakat dari kelas bawah hingga elit berbaur lebur.




**
Kebahagiaan tak selalu diukur oleh uang. Bukan soal gaji besar atau kecil, tapi bagaimana hati menjadi lapang. Rombongan tiba di Stasiun Tanah Abang. Antrean penumpang tampak mengular panjang. Sang wartawan muda justru tengah melumat roti panggang. Roti bermerk 'Meryem' sudah cukup mengganjal perut yang kosong sedari siang. Bajunya pun sudah berganti baru. Celah di tembok besar peron bisa  dimanfaatkan untuk bersalin pakaian. Saat darurat segalanya jadi memungkinkan. Seperti McGyver yang tak habis akal di setiap keadaan. Beruntung, kartu tiket elektronik membuatnya tak perlu mengantre panjang seperti sang guru dan rekan-rekan. Modernisasi membawa kemudahan. Sementara, sang guru dan rekan-rekan bermandi peluh, dibalut lelah bertumpuk-tumpuk. Tapi, bukankah memang ada pengorbanan dalam perjuangan?



Rambut ikal berantakannya belum semua mengering. Matanya memerah karena belum tidur sejak semalam. Walau tak ikut rombongan longmarch, ia harus bergadang menulis laporan berita jelang aksi 212. Saat kantuk seperti ini justru menjadi rawan. Bila tak sigap, barang bawaan bisa hilang dalam sekejap. Banyak kisah  penumpang kehilangan tas saat terbangun dari tidur di kereta. Tapi, Ia berusaha melawan kantuk. Diambilnya HP dari balik kantong celana. "Ngutil" kini jadi budaya membunuh waktu ketimbang membaca atau bertegur sapa. Kereta pun melaju, meninggalkan stasiun yang masih dibanjiri peserta aksi. Matanya tetiba menoleh seorang peserta aksi yang berdiri dekat pintu kereta, seperti seseorang yang ia kenal.

Kereta pun tiba di "Stadela", nama beken Stasiun Depok lama. Kepadatan kereta makin berkurang. Depok memang penyumbang penumpang terbesar KRL Jabodetabek. PT KAI tampaknya perlu merancang program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk masyarakat marjinal di kota Depok.
Sang wartawan berupaya mengejar orang yang dilihatnya di kereta, layaknya mengejar-ngejar narasumber berita. Yang dikejar mendadak hilang ditelan gelombang penumpang rel kereta. Di balik mesin tiket otomatis, sang guru sibuk mengambil uang jaminan tiket kereta. Lumayan bisa untuk ongkos ojol. Ia dan rombongan berpisah. Mereka memilih menggunakan ojol untuk kembali ke rumah. Saat menekan aplikasi "Kojek", bahunya ditepuk seseorang. "Luthfi, akhirnya...!" menghela nafas.

" Fatih!" sang guru menatap seksama. Keduanya saling melempar senyum.
Waktu menunjukan pukul setengah lima sore. Mereka memutuskan shalat ashar di sekitar stadela. Warung baso jadi tempat pilihan rendezvous, persis saat mereka masih satu kost dulu, ngobrol ngalor ngidul di warung makan. Dari soal gerakan mahasiswa, romantika kampus sampai rencana nikah muda yang gagal terealisasi.  Fatih bercerita, ia  seperti mahluk nokturnal sekarang. Bukan hanya bioritmik yang acak, menulis pun sudah kehilangan gairah. Sementara Luthfi berbagi cerita malang melintang di pendidikan sejak lulus kuliah. Fatih terkesima. Sahabatnya belum berubah. Kesederhanaan hidup masih menjadi mindset-nya. Kesulitan demi kesulitan dijalani ikhlas tanpa ada keluh kesah. Cerita Luthfi membongkar kepongahan diri.

"Fi, bagaimana kalau aku kembali mengajar?" tanya Fatih. Luthfi tak menanggapi serius. Sahabatnya dianggap hanya terjebak romantika masa lalu, saat dulu mengisi materi motivasi untuk anak sekolah dengan ongkos pas-pasan menuju lokasi. Ia meyakinkan Fatih, bekercimping di dunia pendidikan tak seheroik yang ia bayangkan. Mendidik adalah mulia. Tapi, berprasangka dan mencari-cari kesalahan ternyata jamak di dunia kerja. Namun, ia minta Fatih berfikir ulang. Terutama soal materi. Menjadi guru akan membuat pendapatannya berkurang drastis. Mungkin butuh waktu 5-10 tahun untuk menyamai pendapatan sekarang. Tapi, bila keberkahan yang dicari, insyaAllah semuanya jadi indah. Hari beranjak petang, keduanya berpisah dalam indahnya ikatan ukhuwah. Seperti indahnya lafal doa rabithah.

(End)

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer