Antara Bashar Al Assad dan Revolusi Arab

Pergolakan politik di Suriah makin panas. Negosiasi politik tampaknya sudah menemui kebuntuan. Rezim-Bashar Al Assad dan oposisi Suriah malah lebih senang berbicara dengan senjata. Rakyat Suriah pun terus menjadi korban perseteruan politik di negerinya.

“Raja” Bashar Al Assad bersikeras duduk di kursi kekuasaannya. Bashar yang naik ke tampuk kekuasaannya sepeninggal ayahnya Hafez Al Assad memang seperti seorang raja yang naik kekuasaan lewat jalur garis keturunan. Tidak ada ruang kebebasan politik di Suriah, hanya ada satu kekuasaan , partai Baath. Baath yang mengusung ideologi politik sosialisme dan didominasi Syiah Nushairiyah telah menyokong rezim keluarga Assad selama 40 tahun lebih.

Perlawanan rakyat sejak Maret 2011 yang terinsipirasi revolusi Arab di Tunisia, Mesir, Yaman dan Libya telah menjadi batu sandungan bagi rezim Assad. Namun, Assad masih duduk tenang di kursinya kendatipun sudah kehilangan orang-orang terdekatnya dalam ledakan bom di Damaskus. Belakangan Assad juga ditinggalkan para pembantu dekatnya termasuk perdana menteri Suriah yang membelot ke oposisi.

Bashar Al Assad tak mau belajar dari pengalaman tergulingnya para pemimpin Arab dalam revolusi rakyat Arab.Kezaliman terhadap rakyat akan berujung pada runtuhnya rezim. Revolusi Arab sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi para pemimpin yang zalim di belahan bumi manapun bahwa kekuasaan mereka bisa digulingkan dengan kekuatan rakyat. Assad tinggal memilih bagaimana sejarah mencatat akhir kekuasaannya.

Zine El Abidine Ben Ali sudah merasakan bagaimana hebatnya kekuatan rakyat menggulingkan kekuasaanya. Gerakan rakyat Tunisia yang dipicu simpati atas nasib pedagang miskin yang bunuh diri membuat Ben Ali akhirnya mundur dan lari ke luar negeri sebagai seorang pengecut. Ben Ali yang merebut kekuasaan lewat Kudeta akhirnya digulingkan rakyatnya. Beruntung, ia berhasil kabur sebelum menjadi sasaran kemarahan rakyat.

Di Mesir, Husni Mubarak akhirnya mundur setelah mendapat tekanan kuat di dalam dan dari luar negeri. Mulanya Mubarak berkeras bertahan agar dapat mundur terhormat setelah pemilu presiden. Namun Rakyat Mesir paham, pemilu presiden hanya akan melanggengkan kekuasaan Mubarak dengan penempatan keluarga dan kroninya di kursi kekuasan. Mesir harus bersimbah darah para martir revolusi setelah algojo-algojo Mubarak dari kepolisian dan intelejen mengunakan kekerasan. Mubarak akhirnya lengser setelah militer mengurangi dukungannya, sementara pihak asing termasuk sekutunya, Amerika Serikat menekannya untuk mundur. Mubarak kini jadi pesakitan, hidupnya justru tidak tenang di usia 84 tahun . Vonis seumur hidup membebani mantan presiden yang memerintah Mesir selama 29 tahun itu.

Nasib paling tragis dialami pemimpin Libya, Muamar Khadafi. Akhir kekuasaan Khadafi berujung pada pelecehan kehormatan dirinya sebagai seorang pemimpin. Khadafi mati ditembak setelah diseret-seret, diinjak dan dijambak para pejuang oposisi. Pemimpin berusia 69 tahun yang sudah tidak berdaya dan berlumuran darah itu ditembak mati dtempat tanpa diberi kesempatan membela diri di muka pengadilan. Nasib keluarganay tak kalah tragis, dua anaknya mati dibunuh, sementara seorang anaknya kini diadili sebagai penjahat kemanusiaan. Khadafi memilih jalan bertempur sampai titik darah penghabisan meski pada akhirnya memelas-melas untuk keselamatan jiwanya.

Yang paling mujur, Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. Ia mampu membaca situasi dengan mengundurkan diri dengan jaminan kekebalan hukum. Saleh saat ini menjalani pengobatan di Amerika Serikat. Saleh yang telah berkuasa 33 tahun terhindar dari nasib tragis, kendatipun hingga kini rakyat Yaman masih terus menuntut penggadilan atas dirinya. Mengasingkan diri ke luar negeri menjadi pilihan untuk menghindari tekanan rakyat dan upaya pembunuhan.

Beragam cerita, berujung sama: Lengser. Biarlah Bassar Al Assad menulis sejarah lengsernya sendiri.



Komentar

Postingan Populer